Jumat, 05 November 2010

dunia pasti berputar by "Zwilla Oktoriana SobadD'linstar"

"Kringggg! Kringggg! Kringgg! Bunyi lonceng sebuah sepeda berukuran sedang yg terlihat sudah tua, ada beberapa bagian yg telah berkarat. seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun berwajah manis terus mengayuh sepeda tsb tanpa kenal lelah tampak dari senyum yg selalu terpasang diwajah imutnya. Sepasang kakinyapun terlihat bersemangat untuk terus mengayuh pedal sepeda tsb. Didepan sepeda terpasang sebuah keranjang kecil yg tengah berisikan beberapa gulungan koran, ia terus mengelilingi sebuah komplek perumahan yg sangat mewah dan mungkin hanya pejabat-dan para pengusaha besar saja yg mampu tinggal dikomplek tsb. Rumah-rumah disana begitu mewah, begitu besar dan indah pagarnya terlihat sangat tinggi dan juga begitu mewah.



"Kringgg! Kringgg!" Lagi-lagi ia menbunyikan lonceng sepedanya, tangan kirinya meraih segulung koran tsb dan melemparkannya tinggi-tinggi kesalah satu rumah yg ia lewati hingga koran tsb tepat jatuh melewati pagar yg tinggi itu, tangannya terlihat lihai melemparkan satu persatu gulungan koran tsb, sampai-sampai tak ada yg meleset, seluruhnya tepat jatuh dihalaman rumah-rumah tsb.



Tiba-tiba langit yg sedikit mendung mulai bergemuruh, sepertinya langit akan melaksanakan perintah Sang Pencipta untuk menjatuhkan tetes-tetes airnya ke permukaan bumi. Hujanpun mulai turun, dimulai dengan tetesan-tetesan kecil hingga berubah menjadi tetesan besar dan semakin banyak. Anak laki-laki itupun langsung mencari tempat berteduh takut jika koran-koran yg akan ia antarkan basah semua.

Iapun menemukan sebuah tempat berteduh, tepatnya pada sebuah pagar salah satu rumah mewah tsb yg disamping kanannya terdapat sebuah pos satpam yg mungkin pemiliki rumah tsb. Ia mulai mengayuh pedal sepedanya lebih kencang untuk cepat sampat ketempat tsb, agar koran-korannya tidak basah terkena air hujan.



"Duh, kok malah hujan sih. Kan korannya masih banyak yg belum dianterin". Gerutunya sedikit kesal, karena hujan pekerjaannya menjadi terhenti. Ia memandangi langit yg makin diselimuti oleh awan hitam sambil terus memeluk koran-koran tsb dengan kedua tangannya.



Iapun mulai berjongkok didepan pos satpam tsb karena kedinginan, tanpa melepas koran-koran yg ada dipelukannya. Karena baginya koran-koran tsb sangat berharga, tanpa koran-koran tsb ia dan ibunya tak bisa makan."Duh udaranya dingin banget". Ia semakin erat memeluk tubuhnya sendiri.





***********





"Kok hujan sih, akukan mau main keluar". Seorang anak laki-laki yg sangat tampan ternyata juga tak senang hujan turun hari ini, pandangannya terus menatap keluar jendela memandangi tetes demi tetes air langit yg terus berjatuhan. Hingga ia melihat ada seorang anak laki-laki seusianya tengah berjongkok didepan rumahnya. Iapun menjadi penasaran dengan anak tsb.

Dengan perlahan-lahan ia melangkahkan kaki menuju pintu depan rumahnya dan mulai membuka pintu, ia sedikit mengeluarkan kepala mungilnya untuk memastikan ia tak salah lihat."Kayaknya ada orang siapa ya?". Gumamnya sedikit kurang jelas. "Iya itu beneran ada orang, kesana ah!". Serunya girang setelah memastikan ternyata memang ada seseorang didepan rumahnya yg tengah berteduh, ia berlari-lari kecil kearah pos satpam depan rumahnya untuk menemui orang tsb. Ia seperti tak peduli dengan hujan deras yg akan membasahi baju bagusnya.



"Hei, kamu siapa?"Tanyanya setelah berdiri disamping anak laki-laki tsb, yg ternyata adalah anak laki-laki pengantar koran tadi. Namun anak laki-laki pengantar koran tsb hanya diam tidak menghiraukan pertanyaan anak laki-laki seumurannya yg tengah berdiri disampingnya. Tapi sepertinya ia tak lelah, ia semakin penasaran dengan anak yg ada disampingnya itu dan ikut berjongkok sambil kembali bertanya."Hei kenalin namaku obiet, kamu siapa?". Ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya kearah anak laki-laki itu, anak laki-laki itupun menoleh kearah obiet. Obiet yg merasa dilihat langsung memberikan senyuman tulusnya yg membuat anak laki-laki itu tanpa sadar ikut tersenyum dan menjabat tangan obiet."Aku Debo". Jawabnya singkat, obiet mengangguk mengerti."Nama kamu Debo, nama yg bagus". Pujinya lagi-lagi sambil tersenyum, debo membalas dengan ikut tersenyum.



Obiet memeluk tubuhnya erat, sepertinya ia sangat kedinginan setelah beberapa menit diluar bersama debo. Tak tahan dengan udara yg semakin dingin iapun berdiri, debo hanya diam. Ia tau pasti obiet tak tahan dengan cuaca seperti ini, maklumlah seorang anak yg kaya pasti tak kuat jika harus berlama-lama diluar."Duh dingin banget diluar, masuk yuk". Ajak Obiet, Debo langsung mendongakkan kepalanya melihat obiet. Ia kaget karena obiet menyuruhnya masuk kerumahnya yg mewah itu. Namun ia cepat-cepat menggeleng pertanda tak mau, ia tak pantas masuk kerumah obiet. Berteduh didepan rumahnya saja debo merasa sedikit segan."Nggak usah biet, aku disini aja kalau kamu mau masuk, masuk aja nggak apa-apa kok". Obiet menyerngitkan dahinya heran."Kok nggak mau, nggak apa-apa kok". Obiet tanpa persetujuan debo langsung menarik tangan debo, hampir saja debo terjatuh akibat tarikan obiet namun untung debo dapat menyeimbangkan kembali tubuhnya.





Debo langsung terperangah melihat bagian dalam rumah obiet, begitu mewah dengan berbagai perabotan bermerek terkenal mengisi seluruh rumah obiet. Ia tak menyangka rumah orang kaya seperti ini, diluarnya saja sudah terlihat mewah ditambah lagi dengan bagian dalam yg tak kalah mewah membuat rumah itu bagaikan istana. Seumur-umur ia belum pernah masuk kerumah seperti itu.



"Hei, kok bengong. Ayo masuk, kita mainnya dikamar aku aja ya". Obiet membuyarkan lamunan debo, Debo akhirnya pasrah saja dan mengikuti Obiet kekamarnya yg ada dilantai dua.



"Jadi kamu loper koran ya, oh ya kamu sekolah dimana?". Tanya Obiet setelah masuk kekamarnya dan duduk di sofa empuk yg memang ada dikamarnya. Lagi-lagi debo hanya mampu bengong diambang pintu kamar obiet melihat kamar obiet begitu luas dan bagus, fasilitas tersedia dikamarnya mulai dari tempat tidur besar yg empuk, komputer, sofa, kulkas kecil dan masih banyak lagi. Obiet yg merasa tidak dihiraukan oleh debopun beranjak dari tempatnya dan heran dengan sikap debo. "De, kok bengong mulu sih kamu". Debo lagi-lagi kaget melihat obiet didepannya."Oh, Kenapa biet?". Tanya debo yg tak mendengar ucapan obiet yg daritadi selalu bertanya padanya, karena terpukau melihat rumah obiet yg bak istana.



"Ih debo, jadi daritadi kamu nggak dengerin aku. Aku nanya kamu sekolah dimana?" Obiet gemas dengan sikap debo. Debo hanya terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya. "Maaf biet, aku nggak denger".Jawabnya singkat sambil mengikuti obiet yg duduk lesehan disamping jendela kamarnya yg besar tanpa melepas koran-koran yg daritadi selalu dipeluknya."Korannya taroh disitu aja, nggak cape kamu megangin koran mulu". Perintah obiet, sambil menunjuk meja yg tepat ada disamping debo. Debo hanya tersenyum dan mengikuti perintah obiet.



"Jadi kamu sekolah dimana?". Obiet lagi-lagi memberikan pertanyaan yg sama. Debo tersenyum kecut."Aku nggak sekolah biet, nggak ada biaya akukan miskin. Jadi tukang loper koran aja cuma bisa buat makan aku sama ibu, makanya aku nggak bisa sekolah".Terangnya sambil menoleh kearah jendela kamar obiet ia tak ingin obiet melihat raut kesedihan dari wajahnya. Obiet yg merasa tidak enak karena menanyakan pertanyaan yg bodoh sehingga membuat teman barunya itu menjadi sedih meminta maaf."Maafin aku ya de, aku nggak tau". Ujarnya dengan wajah sangat menyesal, debo menggeleng sambil tersenyum manis."Nggak apa-apa kok biet".



"Kamu bisa baca nulis?". Tanya obiet lagi, debo menggeleng. Obietpun beranjak dari tempatnya dan menuju meja belajarnya seperti sedang mengambil sesuatu. Debo hanya menatapnya heran, apa yg akan dilakukan obiet. Obiet kembali membawa dua buah buku tulis dua buah pensil, dan satu karet penghapus serta sebuah buku lebih besar ukurannya dari buku tulis namun terlihat seperti buku pelajaran. Debo menyerngitkan dahinya heran."Itu buat apa biet?". Tanyanya heran, Obiet kembali duduk."Buat kamu, kamu mau nggak aku ajarin baca dan menulis?". Jawabnya sambil menyerahkan buku-buku dan alat tulis tsb. Debo menundukkan kepalanya dengan raut wajah yg tak dapat dipastikan apakah kecewa, sedih atau bahagia."Kalau kamu merasa tersinggung aku minta maaf de, aku cuma mau kamu bisa baca dan nulis siapa tau itu bisa berguna nanti". Obiet yg melihat raut wajah debo seperti itu merasa tak enak sepertinya ia telah menyinggung perasaan debo. Namun debo cepat-cepat menggeleng."Bukan itu kok biet, aku senang kamu mau ngajarin aku tapi aku nggak enak sama kamu. Aku cuma anak miskin sedangkan kamu orang kaya, kok kamu mau berteman sama aku mau ngajarin aku lagi. Aku nggak pantes nerima semua itu".



Obiet langsung mendekat ketempat debo hingga ia berada disamping debo dan merangkulnya erat, rangkulan persahabatan."Kitakan SAHABAT, sahabat harus saling membantu. Aku nggak peduli mau kamu orang miskin kek, orang kaya kek. Tapi bagi aku kamu sahabat aku". Jelas obiet semakin membuat debo tak enak, obiet adalah seorang anak kaya raya yg sangat baik berbeda dengan yg dipikirkan debo selama ini yg menganggap semua orang kaya sombong, buktinya obiet tak sombong obiet begitu baik padanya bahkan ia tak malu merangkul debo yg kumal, malah terlihat bahagia. Debo membalas rangkulan obiet."Thanks ya biet, kamu udah mau jadi sahabat aku". Kata debo sambil tersenyum bahagia. Ia tak menyangka orang yg baru ia temui beberapa menit yg lalu bisa sangat baik padanya bahkan menganggap ia sebagai sahabatnya, benar-benar berhati malaikat.



Merekapun terlihat sangat bahagia, Obiet terlihat sangat sabar mengajari debo satu persatu huruf-huruf dan angka-angka. Mengajarinya cara menulis huruf-huruf dan angka tsb, disela-sela acara belajar, mereka selingi dengan canda dan tawa seperti mereka sudah saling mengenal dalam waktu yg cukup lama. Sungguh persahabatan yg sangat menyenangkan.







************





Beberapa minggupun berlalu, Debo dan Obiet semakin akrab. Debo tak pernah absen untuk datang kerumah obiet hanya sekedar bermain atau belajar kembali. Tentu saja setelah Debo selesai bekerja, begitu juga dengan Obiet ia selalu menyisihkan waktunya untuk bermain bersama debo. Bahkan ia selalu menghampiri Debo kegerbong kereta api yg telah tak terpakai tempat Debo biasa melepas lelah setelah setengah hari mengantarkan koran, padahal debo sudah melarangnya karena takut obiet akan sakit jika harus berpanas-panasan. Namun obiet tak peduli ia tetap datang walaupun panas yg menyengat kulit putihnya.





Hari ini lagi-lagi obiet menghampiri debo kegerbong kereta api, ia ingin sekali bermain bersama debo. Debo yg melihat kegigihan obiet yg tak mau mengikuti perintahnyapun akhirnya mengalah dan membiarkan obiet ketempatnya. Padahal sebenarnya debo sangat bahagia jika obiet datang menemuinya, dan bermain bersama obiet menghabiskan waktu bersama.



"De, aku ada sesuatu buat kamu". Ucap obiet sambil merogoh tas ranselnya dan mengambil sesuatu tsb. Debo hanya menatap Obiet heran, apalagi yg akan diberi Obiet untuknya."Nih, Kemarin aku jalan-jalan ke Mall dan singgah dulu ditoko buku. Trus aku lihat ada buku bagus, aku ingat kamu. Jadi aku beli aja buat kamu, supaya kamu tambah lancar baca dan nulisnya". Obiet menyerahkan buku tsb, Debo mengambilnya dan memandanga buku itu sejenak. Sebuah buku yg berisi cerita-cerita rakyat Indonesia, buku itu bisa saja membantu untuk memperlancar debo membaca dan menambah pengetahuannya. Debo tersenyum pada Obiet. "Makasih ya biet, buku ini akan aku simpan terus. Aku juga punya sesuatu buat kamu". Debopun juga merogoh saku celananya, Obiet hanya tersenyum heran."Nih Biet, mang tulisan aku masih jelek sih. Tapi semoga kamu mau nerimanya dan selalu kamu simpan supaya kamu selalu ingat aku".Jelasnya sambil memberikan selembar kertas bertuliskan nama "DEBO OBIET", Obiet menerimanya dan memandanginya lekat-lekat."Aku janji bakalan terus jaga kertas ini buat kamu, sebagai tanda persahabatan kita". Ujarnya mantap dan menggenggam kertas itu erat-erat. Debo hanya bisa tersenyum melihat Obiet sahabat yg sangat ia sayangi itu, Obietpun merangkul pundak debo, debopun membalas rangkulan Obiet sehingga saat ini mereka saling merangkul. Sebuah persahabatan yg sangat Hangat.



Disaat mereka asyik bercengkrama, tiba-tiba saja sebuah mobil sedan hitam menghampiri mereka. Keluarlah seorang bapak paroh baya berbadan tegap mengenakan kemeja lengan pendek kotak-kotak berwarna biru. Obiet dan Debo menoleh kaget melihat bapak tersebut."Papa!"Gumam obiet, membuat Debo kaget dan melepas rangkulannya ternyata ia adalah Ayah Obiet.



Bapak itupun menarik tangan Obiet dan menyuruhnya untuk segera masuk kedalam mobil sedan itu."Obiet, ayo kita pulang!". Perintahnya sambil terus menarik tangan Obiet, Obiet hanya bisa pasrah dan menuruti perintah papanya karena tak mungkin juga ia melawan pada papanya. Debo yg melihatpun hanya bisa pasrah ditinggalkan obiet begitu saja, ia juga tak mungkin merebut Obiet dari papanya karena dia bukanlah siapa-siapa Obiet.



Mobil sudah melaju cukup kencang, Obiet terus melihat keluar jendela melihat Debo sahabatnya yg terpaksa ia tinggalkan. Tetes demi tetes air keluar dari pelupuk matanya, kertas yg diberikan debo tadi ia peluk erat-erat dan tak ingin ia lepaskan.

Debo hanya bisa berdiri mematung melihat mobil sedan hitam yg membawa obiet telah pergi jauh, sama halnya dengan Obiet, Debo juga akhirnya tak mampu menahan tangisnya ia peluk erat-erat buku pemberian dari Obiet dan juga tak ingin melepaskannya.





**************



Hampir satu minggu, Debo tidak pernah bertemu dengan Obiet lagi. Ia pernah mencoba kerumah Obiet dan mencari tau mengapa Obiet tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Namun nihil, rumah itu telah kosong rumah yg dulu tersimpan banyak kenangan indah bersama Obiet sudah terlihat kumuh dan tak berpenghuni. Dipagarnya terpampang sebuah papan triplek besar yg bertuliskan "RUMAH INI KAMI SEGEL". Orang tua Obiet yg seorang pengusaha besar ternyata bangkrut, hutangnya menumpuk dimana-mana sehingga membuat Obiet jatuh miskin rumahnyapun ditarik oleh Bank karena orang tua Obiet tak mampu melunasi hutang-hutangnya. Itu juga alasan mengapa Obiet akhirnya harus pergi jauh, harus pergi meninggalkan Debo. Semua orang yg tinggal dikomplek perumahan mewah itupun tak tau kemana keluarga Obiet pindah.

Debo membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh dari rumah tsb. Wajahnya tertunduk sedih, obiet sudah pergi. Namun debo selalu percaya jika Obiet tak pernah melupakannya meskipun nanti mungkin mereka tak kan pernah dapat bertemu lagi. Ia harus kembali menjalani kehidupannya, ia harus bangkit dan tak boleh selalu terpuruk apalagi dengan bekal kemampuannya membaca dan menulis yg diajarkan oleh obiet bisa menjadi bekalnya nanti.





*********



Sepuluh tahun kemudian, Seorang pemuda muda berjas tampak terlihat gagahnya keluar dari mobil BMW hitamnya menuju kantornya tempat ia bekerja. Ya, itulah Debo ternyata debo sudah menjadi seorang pengusaha besar, seorang direktur Surat Kabar terbesar di Indonesia. Dengan kegigihannya diwaktu kecil menabung sedikit penghasilannya dari menjadi loper koran setiap hari dan bekal pandai membaca dan menulis yg diajarkan sahabat kecilnya membuat debo menjadi seorang pengusaha besar di Jakarta.

Seorang pemuda lain, dengan kemeja putih bergaris-garis hitam yg sedikit lusuh berjalan kedalam sebuah perkantoran besar. Ditangan kanannya, ia sedang menggenggam erat sebuah stopmap coklat yg berisikan surat-surat persyaratan melamar pekerjaan, sepertinya ia seorang pencari kerja.



Ia terus berjalan menuju pintu kantor tsb, namun tanpa sengaja ia menabrak Debo yg tengah berdiri didepan pintu melihat-lihat sekitar kantornya."Maaf pak, saya tidak sengaja". Ucapnya meminta maaf sambil membungkukkan badannya sopan. Debo sedikit bengong melihat pemuda yg telah menabraknya, sepertinya ia kenal dengan pemuda yg berdiri didepannya itu."Obiet, kamu Obietkan?". Tanya Debo menggebu-gebu benarkah pemuda ini adalah Obiet, ia mirip sekali dengan Obiet sahabat kecil yg sangat ia sayangi dulu. Pemuda itu menatap Debo heran, kenapa ia bisa tau kalau namanya adalah Obiet."Iya pak, nama saya Obiet kok bapak bisa tau nama saya?". Ia balik bertanya, saat itu juga hati debo terasa sangat bahagia bagai kupu-kupu yg sangat indah tengah menari-nari dihatinya. Ia telah menemukan sahabat yg selama ini sangat ia rindukan, sangat ia sayangi. Tapi kenapa Obiet tidak tau Debo, kenapa ia bisa lupa dengan Debo. Apa karena penampilan Debo yg sangat berbeda dari yg dulu, dulu Debo terlihat kumal namun sekarang terlihat bersih dan gagah ditambah lagi ia memakai jas yg sanga bagus.



Debo membuka tas jinjing berwarna hitamnya, dan mengambil sesuatu dari dalam tas tsb. Ia menunjukkan sebuah buku, sebuah buku yg berjudul Cerita Rakyat Indonesia. Obiet memandangi buku itu dengan seksama, matanyapun mulai berkaca-kaca. Ya, iya ingat buku itu, buku itu adalah pemberian darinya untuk sahabatnya Debo. Ia menoleh pada sosok yg menunjukkan buku tsb padanya, benarkah ia Debo? Sahabat kecilnya yg sangat ia sayangi itu. Air matanya tak terbendung lagi, hingga akhirnya berjatuhan."De, ini beneran kamu de. Ini Debo?"Tanyanya tak percaya, debo mengangguk cepat."Iya biet, ini aku seorang loper koran yg menjadi sahabatmu". Jawab debo, air matanyapun juga akhirnya jatuh tak kuat menahan tangis bahagia karena akhirnya ia dipertemukan kembali kepada sahabatnya. Merekapun langsung saling berpelukan, melepas rindu yg sepuluh tahun tertahan.



"Biet, kamu masih nyimpan kertas itukan?". Tanya debo setelah melepas pelukannya, Obiet mengangguk sambil tersenyum dan merogoh saku kanannya."Inikan De, pasti akan selalu aku simpan karena ini adalah tanda persahabatan kita". Jawab Obiet sambil memberikannya pada Debo, debo tersenyum bahagia Obiet juga. Merekapun saling merangkul kembali seperti ketika masa kecil mereka.







~ THE END ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar