Beribu-ribu batako terhampar , menyatu membentuk sebuah lapangan yang luas . Bunga yang bermekaran terlihat menghiasi beberapa sisi lapangan . Langit biru yang membentang indah dengan suara kicauan burung yang saling sahut-menyahut menambah indah suasana . Cukup nyaman berada disini ketika pagi hari .
Alvin beranjak dari duduknya saat sang surya mulai berani menampakkan diri , menyilaukan pandangan mata .
“Bagi seluruh siswa , setelah meletakkan tas dikelas , diharapkan untuk segera turun ke lapangan . Upacara akan dimulai” suara Pak Gino menggema . Tanpa menggunakan microphone pun sebenarnya suara Pak Gino sudah bisa didengar diseluruh penjuru sekolah . Hebat bukan ? suara itu seperti dialiri listrik bertegangan 100volt . Alvin melirik arloji hitam dipergelangan tangan kanannya . “huh ! masih setengah jam lagi kok udah teriak-teriak gak jelas ! dasar orang tua .” Alvin merutuki perbuatan gurunya tersebut . Ya , waktu memang masih menunjukkan pukul 06.30 . Tapi beginilah kehidupan disekolah menengah atas yang bertaraf tinggi . 30 menit sebelum masuk , ada saja teriakan yang membisingkan telinga .
Akhirnya , daripada menghabiskan tenaganya untuk ke kelas yang berada dilantai tiga , Alvin memutuskan menunggu upacara seraya duduk kembali disinggasananya . Menikmati kembali keindahan suasana pagi walau kini matahari sedikit terik . Alvin mengangkat kaki , menumpukan kaki kanan pada lutut kirinya . Merogoh saku . mencari teman kesayangannya . Rubik . Dengan lincah jari-jari Alvin memainkan benda ajaib berbentuk kotak tersebut . Sudah menjadi kebiasaan Alvin tiap pagi duduk dibawah pohon yang cukup rindang disisi lapangan dengan beberapa batako berdiri kokoh mengitari akar pohon . Batako yang selama ini menjadi singgasana Alvin ketika ia ingin mengilangkan kegundahannya dengan merasakan indahnya panorama pagi .
“Heh ! kenapa masih duduk disitu ! kamu gak dengar apa yang saya katakan tadi ?!” kalimat yang dilontarkan Pak Gino terdengar seperti kalimat perintah yang sangat memaksa . Alvin terperanjat , Namun dengan segera ia hilangkan raut wajah kaget itu menjadi normal kembali . Alvin mengangkat alisnya santai ,memasukkan rubiknya kedalam saku . Kemudian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring . Senyum merendahkan . Pak Gino terlihat berang dengan kelakuan Alvin . Matanya yang sipit seperti tersiksa karena dipaksakan untuk melotot . Rahangnya mengeras . Sebelum Pak Gino melontarkan kembali sebuah kalimat yang sangat menyesakkan , Alvin segera beranjak dari duduknya . Bukan karena ia takut , tapi Alvin tak mau telinganya rusak hanya karena mendengar ocehan tak jelas dari pemilik suara 100 Volt tersebut .
Alvin melangkah pelan menuju barisan kelasnya ditengah lapangan . Teman-temannya yang melihat kejadian itu menatap Alvin miris . Sedikit mengasihani sang pemuda . Walaupun itu sudah menjadi tontonan rutin setiap senin pagi semenjak tiga bulan yang lalu . Alvin membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin .
Alvin memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kemudian masuk kedalam barisan . Teman-temannya langsung memberondong Alvin dengan sejuta komentar yang menurut Alvin sangat tidak penting .
“Gila lo Vin !”
“Ada apa sih sama lo , Vin ?”
Dan komentar yang membuat Alvin berang adalah ketika Rio , musuhnya berkata , “Bokap sendiri kok digituin . Mau jadi anak durhaka lo !”
Alvin menajamkan matanya menatap kesal pada makhluk bernama Rio itu . Bisa-bisanya dia ngomong gitu,pikir Alvin .
Rio memasang tampang sengak , ia tak mau kalah kali ini setelah puluhan kali ia dikalahkan oleh Alvin . Dengan gerakan cepat , Alvin mencengkeram kerah Rio menggunakan tangan kirinya , sedangkan tangan kanannya mengepal tepat didepan batang hidung Rio .
“Lo ! jangan sok tau !” Alvin berkata pelan , namun terdengar tajam ditelinga. Nyali Rio ciut . Alvin terlihat sangat meyeramkan ,pikir Rio . Belum pernah Alvin menampakkan sosoknya yang begitu sangar . “So..Sorry” ujar Rio pelan . Lebih baik ia meminta maaf daripada harus masuk rumah sakit karena tinjunya sikarate bersabuk hitam itu meremukkan wajahnya . Alvin memutuskan untuk melepaskan cengkeramannya pada seragam Rio . “Jangan macam-macam sama gue !” bentak Alvin seraya mencoba menetralkan emosinya . Nafasnya masih tak beraturan . Rio menunduk , menahan rasa malu . Bukankah dia yang duluan menyulut kemarahan Alvin dan sekarang dia yang ketakutan ? pengecut ,pikirnya .
Alvin memutar tubuhnya menghadap kedepan . Mencoba mengatur nafasnya yang terdengar sangat berantakan . Alvin memakai topi berwarna abu-abu yang sedari tadi tergantung diikat pinggangnya . Bukan topi sekolah , melainkan topi biasa, polos.
“Upacara pengibaran bendera segera dimulai . Masing-masing ketua kelas menyiapkan barisannya” suara dirigen terdengar lantang . Seluruh ketua kelas pun merapikan barisannya . Alvin yang berdiri tiga baris dari belakang , hanya berdiam . Tak mengikuti aba-aba dari ketua kelasnya walaupun sudah berkali-kali sang ketua kelas menegurnya . “Lo urus yang lain aja ! gue bisa ngurus diri gue sendiri” ujarnya setelah Cakka ,sang ketua kelas menghampirinya dan menyuruhnya untuk bergeser sedikit kekanan . mendengar itu , Cakka hanya mendengus kesal dan kembali kebarisan .
Pak Gino yang melihat kelakuan Alvin langsung mengambil langkah seribu , mendekati pemuda itu . Kemudian beliau berdehem keras tepat ditelinga Alvin . Sekali lagi Alvin terperanjat , namun bukan Alvin jika ia tidak bisa dengan cepat mengubah raut wajahnya . Dengan santai , Alvin melangkah kedepan , menyuruh Deva untuk bertukar posisi dengannya . Deva mengerutkan kening ,bingung . Apa yang harus ia lakukan ? Jika ia tak menuruti Pak Gino , ia akan mendapat panggilan ke BP nantinya ,tapi jika ia tak menuruti Alvin … Deva meneguk ludah . Membayangkan apa yang akan Alvin lakukan padanya saja sudah membuatnya bergidik ngeri . Alvin melotot “ Lama banget , lo gak mau tukeran posisi sama gue ?” tanya Alvin . Deva mengeleng . “Gu..gue ma..mau kok” dengan langkah lebar , Deva melangkahkan kakinya kebelakang . Tak perduli lagi dengan Pak Gino yang tengah menatapnya tajam . Sementara Alvin tersenyum lebar .
Pak Gino mengelus dada ,berusaha meredam emosinya . Tapi percuma . Kemarahannya telah membuncah sampai ke ubun-ubun kepalanya .
Bugg..!
Satu tendangan keras dari kaki Pak Gino mendarat dibetis Alvin .”Arrghh!!” jerit Alvin . Ia kemudian memutar badan menghadap Pak Gino , Memicingkan mata , menatap Pak Gino tajam .
“Maksud lo apa ?” tanya Alvin lantang . Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya . Pak Gino terbelalak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alvin . Upacara terhenti , semua mata kini mengarah pada mereka . Namun Alvin dan Pak Gino tak perduli , mereka terlalu larut dalam emosi masing-masing . “Kamu ! Saya didik kamu tidak begini ! saya mendidik kamu supaya berbakti dengan orang tua !” bentak Pak Gino . Alvin tersenyum miring .
Entah mengapa tak ada satupun yang berani menghentikan mereka . Apa karna Pak Gino adalah kepala sekaligus pemilik sekolah ? atau karna Alvin yang notabene nya seorang karateka bersabuk hitam yang telah menjelajahi dunia ? entahlah . Mereka pasti mempunyai alasan .
“lo BUKAN orang tua gue ! B-U-K-A-N” teriak Alvin seraya menekankan dan memperjelas kata ‘bukan’ .
Plakk..!!
Satu tamparan mendarat dipipi Alvin . Pipi nya yang berkulit putih itu kini memerah dan membentuk lima jari . Alvin terjerembab , namun dengan sigap ia berdiri . Alvin mendengus kesal . Tatapannya semakin tajam . Namun ketika ia menatap tepat manik mata Pak Gino , perasaan bersalah menghantuinya . Ada apa ini ? pikirnya . Dengan segera ia membuang pandangan . Mungkin menurutnya itu lebih baik .
Alvin menunduk , “Lo itu pembunuh mama gue !” ujarnya pelan . Tapi kalimat itu terasa begitu tajam , menyayat hati Pak Gino . Tubuh Pak Gino bergetar . Jadi inikah yang membuat Alvin berubah tiga bulan belakangan ini ? yang membuat Alvin selalu saja membantahnya ?
Pak Gino memegangi kepala . Darah terasa menumpuk dan membeku dikepalanya . Peristiwa tiga bulan lalu kembali terngiang . Peristiwa yang menyebabkan calon istrinya yang merupakan ibu kandung Alvin meninggal .
Hening . Tak ada yang berbicara kala itu . Alvin dan Pak Gino masih terlarut dalam emosi . Gejolak jiwa mereka didominasi oleh keegoisan . Sedangkan para guru ataupun teman-teman Alvin , mereka ternganga menyaksikan peristiwa itu .
“Kenapa ? gak bisa ngelak lagi kan ! elo emang pembunuh mama !” ucapan Alvin membuyarkan keheningan yang sedari tadi tercipta . Pak Gino kembali terbelalak , secara refleks tangannya bergerak keatas , hendak menampar Alvin-lagi- jika saja seorang gadis tidak menghalanginya . “STOP PAA !!!” gadis itu berteriak seraya merentangkan kedua tangannya didepan Alvin , berusaha melindungi Alvin . Matanya mulai berkaca-kaca . “Jangan pukul kak Alvin lagi paa .. Acha mohon ..” Acha kemudian memutar badannya menghadap Alvin , ditatapnya Alvin yang tengah termenung .
“Dan kak Alvin .. Acha mohon .. terima Acha sama papa . Bunda meninggal bukan karena papa kak ..” Acha menghentikan kata-katanya , mencoba keras menahan bulir bening yang memaksa keluar , mengarungi pipi mulusnya . Ia kemudian mengela nafas berat .
“Itu semua udah takdir . Bukankah bunda pernah berpesan sama kakak sebelum bunda pergi ! apa kakak gak ingat ? Sayangi kami kak ! walau kami hanya keluarga tiri kakak . Tapi Acha gak pernah nganggap kakak sebagai saudara tiri . Acha udah nganggap kakak bagian dari hidup Acha . hiks hiks ..” tanpa bisa dicegah , bulir bening itu mengalir dengan leluasa dipipi Acha .
Alvin terdiam . Ia ingat betul pesan mamanya . ‘Jadi kakak yang baik yah vin buat Acha . Terus jangan ngebantah papamu itu , mereka sayang sama kamu. Mereka Cuma mau yang terbaik buat kamu’ begitulah kira-kira . Pikirannya berkelebat dengan berbagai macam pertanyaan . Ia bingung apa yang harus dilakukannya kini . Apakah ia harus mempercayai kata-kata adik tirinya itu atau tetap berpendirian teguh pada keegoisannya ?
Sesungguhnya Alvin tahu , ini jelas bukan kesalahan ayah tirinya . Hanya saja ia masih belum bisa melepas kepergian mamanya . Ia kesal , dan melampisakan segala amarahnya kepada Pak Gino , ayah tirinya . Tak disangka Alvin , dada bidang itu merengkuh tubuh Alvin dalam pelukan . Mengelus pelan puncak rambut Alvin . Memberi sedikit kekuatan walaupun sebenarnya si dada bidang juga tak kuat menahan .
“Maafin Alvin..” suara serak Alvin membuat si dada bidang tertegun haru . Dilepaskannya pelukan itu perlahan . Ditatapnya Alvin yang sedang ,menangis ? Ia tak menyangka Alvin akan mengeluarkan air mata itu . Dengan sigap Ia meghapus airmata Alvin dengan jarinya . “Cowok kok nangis..” ujarnya . Alvin kemudian tersenyum kecil , “Pak Gin .. eh .. papa apaan sih . siapa yang nangis ..” Alvin mengelak .
“Maafin papa juga ya udah mukul kamu” ujar Pak Gino . Alvin mengangguk seraya tersenyum jahil ,”sakit nih !” Alvin menunjuk pipinya yang merah , Pak Gino tertawa renyah .
Alvin kini merasa ,, lega ? ya . sangat lega . Semua ini berakhir juga ,pikirnya . Seharusnya dari awal ia bisa mengontrol emosi ,tapi yasudahlah . Tak perlu disesali . Pasti ada hikmah dibalik semua ini .
Sesaat kemudian tubuh mungil Acha memeluknya . “makasih kak ..” ujar Acha seraya tersenyum lebar .
Semua mata yang melihat peristiwa itu tersenyum haru . Upacara berjalan kembali . Namun upacara ini kali ini terasa berbeda bagi Alvin . Upacara ini terasa khidmat kembali setelah tiga bulan terasa menyesakkan baginya .
^THE END^
My Story Is My Dream
Selasa, 26 Juli 2011
Selasa, 24 Mei 2011
janji itu palsu
Janji . Begitu sering mereka mengucap janji . Mengatakan kata-kata kebohongan agar dipercaya . Kata-kata bermajas hiperbola yang sungguh memuakkan . Janji itu palsu .
***
Gabriel merebahkan tubuhnya diatas sofa . Menatap miris langit-langit ruang tamu rumahnya yang bercat kelabu . Kelabu seperti apa yang sedang ia rasakan kini . Gabriel mendesah pelan dan memejamkan matanya perlahan . Terngiang kembali dipikirannya peristiwa tiga hari yang lalu . Peristiwa yang membuat dirinya menggalau sejak kemarin . Ia tak mengerti mengapa semua nya tiba-tiba saja berubah . Semua ini terlalu rumit , pikirnya . Gabriel beranjak dari duduknya , meraih tas nya yang tergeletak lemah dilantai . Dengan langkah gontai Gabriel berjalan menuju kamarnya .
“Udah pulang ,yel ?” sebuah suara dari arah dapur memaksa Gabriel menghentikan langkahnya . “Udah ma ..” jawab Gabriel lesu seraya melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar .
Kamar bernuansa putih dengan beberapa titik polkadot tercetak di dinding . Putih , warna favorite Gabriel . Gabriel melempar tas nya ke atas meja belajarnya yang berukuran besar . Kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk , singgasananya ketika tidur . Ia mengedarkan pandangan . Beberapa poster besar bergambar pemusik atau pemain sepak bola kesukaannya ikut meramaikan kamar Gabriel . Sebuah gitar klasik tergantung disudut kamar . Edaran pandangan Gabriel terhenti ketika Ia melihat sebuah pigura foto di atas meja lampu . Seorang pria dengan rambut cepak sedang tersenyum lebar , dan seorang gadis disebelahnya tersenyum malu-malu . Pria itu adalah Gabriel .
“shilla .. gue kangen elo” rintih Gabriel tertahan . Gabriel menggigit bibir , meredam sesak yang tiba-tiba menyeruak di hatinya . Peristiwa itu kembali terngiang . Peristiwa tak disengaja yang menyebabkan Gabriel selalu saja merutuki kebodohannya . Peristiwa yang menyebabkan si gadis didalam pigura tersebut yang ternyata bernama Shilla ,menjauhi Gabriel .
Gabriel meraih handphone disaku celananya . Memencet-mencet tombol yang tertera . Dua belas digit nomor yang sudah ia hapal di luar kepala terlihat di layar . Sejenak , Gabriel menimang-nimang handphone nya , bingung . Akhirnya ia memutuskan untuk memencet tombol bergambar telpon berwarna hijau . Gabriel mendekatkan handphone itu ke telinga nya . Suara nada beruntun membuat Gabriel kembali menggigit bibir . “Shilla .. “ desahnya pelan . Untuk kesekian kalinya telpon Gabriel di reject Shilla . Lelah sudah Gabriel memikirkan semua ini . Sebenarnya ada apa dibalik ini semua ? pikirnya .
***
Pagi yang indah ketika sang surya dengan gagah menampakkan wujudnya . Saat burung-burung berterbangan dilangit biru , saling menyapa satu sama lain .
Gabriel membuka tirai putih dikamarnya . membiarkan beberapa berkas cahaya matahari menerobos jendela kamarnya , membentuk petak-petak cahaya dilantai . Ia kemudian meraih tas nya yang tergeletak di atas meja . Dengan tergesa Gabriel menuruni tangga ,sesekali melirik seragamnya , mengecek apakah ada yang kurang atau tidak . “sip lah . udah lengkap !” seru Gabriel disaat kakinya telah selesai menginjak anak tangga . Bergegas ia menuju ruang tengah . Seorang wanita paruh baya sedang bercengkrama bersama lelaki yang sedikit lebih tua dari nya diruang itu . Terlihat sang lelaki beberapa kali menyeruput teh yang tersedia .Dengan senyum mengembang , Gabriel kemudian mendekati kedua orang tersebut .
“ma .. pa .. aku pergi dulu ya ..” pamit Gabriel pada kedua orang tuanya . “iyaa . eh seneng banget kayaknya ?” ujar mama Gabriel disaat Gabriel mengecup punggung tangannya . Gabriel yang mendengar itu langsung tersipu , menyebabkan rona kemerahan tampak dari kulit wajahnya yang putih . Gabriel kemudian tersenyum kecil . Setelah berpamitan , dengan langkah lebar Gabriel berjalan menuju garasi . Menghampiri ninja merah miliknya .
***
Pada saat jam pelajaran dimulai , pikiran Gabriel tak menetap di raga nya . Gabriel terlalu senang memikirkan peristiwa tadi malam . Peristiwa yang menurutnya adalah akhir dari semua kegundahan yang telah dialaminya akhir-akhir ini .
-FlashBack-
Malam telah larut . Jarum jam menunjuk pada angka sebelas dan tiga , namun Gabriel masih terjaga . “eum , jam sebelas lima belas ..” gumam Gabriel pelan , bahkan hampir tak bersuara . Getaran dari handphone Gabriel yang terletak disamping bantal nya membuat Gabriel terkejut . Dengan sedikit menggerutu Gabriel meraih hanphone miliknya . One message received . Gabriel mengerutkan kening , menaikkan sebelah alisnya . “siapa nih sms malem malem gini ..” ucapnya . Gabriel kemudian membuka isi pesan singkat tersebut .
From : 085758374***
Yel , maaf td aku ga bs angkt telf . bsk bs ktmu ga ? plg sklh dicafe biasa . shilla .
Gabriel membelalakkan mata saat mengetahui siapa pengirim pesan singkat tersebut . Senyum mengembang terukir diwajahnya . Secepat kilat Gabriel membalas pesan singkat itu .
To : 085758374***
Ya shill . I’ll be waiting for you . ^.^
-FlashBack End-
Senyuman itu terus terukir diwajah Gabriel . Ketika jam pelajaran berakhir , Gabriel memasukkan buku-bukunya dengan tergesa . Dipikirannya kini hanya satu , Shilla . Gabriel kemudian melangkah cepat menuju parkiran sekolah . Jarak yang hanya beberapa puluh meter itu , terasa beribu-ribu meter dilaluinya .
***
Dicafe itu Gabriel menunggu . Lewat satu jam sudah dari waktu perjanjian namun dengan sabar Gabriel duduk tenang dikursi yang terletak sedikit di sudut ruangan . Sudah tak terhitung ia melirik arloji hitam dipergelangan tangannya .
‘menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
saatku harus bersabar dan trus bersabar menantikan kehadiran dirimu’
Lirik lagu yang dinyanyikan oleh band yang sedang tampil dicafe itu membuat Gabriel mencelos . Memang hanya diawal lagu , tapi itu cukup membuat Gabriel tersinggung . Jus sirsak yang sedari tadi menemani Gabriel seakan telah letih bersamanya . Gabriel menyeruput jus tersebut , ia menghentikan seruputan nya ketika menyadari jus sirsak itu terasa hambar . Tawar .
Gabriel mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja , membuat ketukan sembarang agar lagu tersebut tak memasuki gendang telinganya . Gabriel melirik kembali arlojinya . Pukul 17.00 . Gabriel menghela nafas berat , putus asa . Gabriel memutuskan untuk beranjak , lebih baik ia pulang kerumah ,pikirnya .
Langkah Gabriel terhenti ketika Shilla tiba-tiba berada dihadapannya menggandeng lengan sesosok cowok berwajah oriental . Hati Gabriel memanas seketika melihat pemandangan itu . Namun Gabriel menahannya , berusaha sabar dan mendengar penjelasan Shilla bahwa lelaki dihadapannya kini hanyalah adik atau abang shilla . hah , hati Gabriel kembali mencelos . bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu , bukankah ia telah mengenal baik keluarga Shilla ?
“Yel .. aku mau jelasin ke kamu ..” ujar shilla . “apa ?” tanya Gabriel kasar , amarah mulai menguasai diri nya . Shilla kemudian menunjuk kursi tempat Gabriel duduk , menunggu sedari tadi . Dengan isyarat tangan , Shilla mengajak Gabriel untuk duduk . Gabriel menurut . Hati Gabriel kembali memanas ketika lelaki itu menggeser kursi , mempersilahkan Shilla duduk . Seharusnya itu adalah tugasnya ,pikir Gabriel .
“em , maaf aku telat . Alvin baru bisa jemput jam empat” ucap shilla seraya menunjuk Alvin dengan lirikan matanya . Gabriel menaikkan sebelah alisnya melirik Alvin sekilas , ‘oh , jadi nama nya Alvin .. kerenan juga nama gue ..’batin Gabriel kesal . Gabriel kembali menatap Shilla . Menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari bibir Shilla . Shilla menghela nafas , “yel . kita putus ya ..”
JLEBB
Kata-kata Shilla seakan menusuk hati Gabriel . Sangat tajam . Gabriel meringis , namun ia tak menahan Shilla yang ingin lepas dari pelukannya . “Aku pamit . makasih buat waktunya ..” ujar shilla . Sepertinya Shilla sama sekali tak merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Gabriel , buktinya , dengan lembutnya Shilla menarik lengan Alvin dan menggenggam jemari kokoh itu dihadapan Gabriel . Gabriel merutuki kebodohannya , bukan karena kesalahan tak sengaja pada peristiwa itu , tapi karena dengan mudahnya ia mempercayai kata-kata shilla . Janji-janji shilla bahwa ia tak akan pernah pergi dari rengkuhan Gabriel . Gabriel tersenyum miris mengingat itu semua .
“Bodoh” ujarnya seraya meninju meja . Tak dipedulikannya tatapan aneh dari pengunjung café yang lain . Gabriel kemudian melangkah gontai menuju pintu café . pikirannya berkecamuk . Ia bahkan mungkin tak sadar mengucapkan sederet kalimat pada setiap orang yang dilewatinya dicafe . “gue benci sama yang namanya janji . Janji itu Palsu..”
^THE END^
***
Gabriel merebahkan tubuhnya diatas sofa . Menatap miris langit-langit ruang tamu rumahnya yang bercat kelabu . Kelabu seperti apa yang sedang ia rasakan kini . Gabriel mendesah pelan dan memejamkan matanya perlahan . Terngiang kembali dipikirannya peristiwa tiga hari yang lalu . Peristiwa yang membuat dirinya menggalau sejak kemarin . Ia tak mengerti mengapa semua nya tiba-tiba saja berubah . Semua ini terlalu rumit , pikirnya . Gabriel beranjak dari duduknya , meraih tas nya yang tergeletak lemah dilantai . Dengan langkah gontai Gabriel berjalan menuju kamarnya .
“Udah pulang ,yel ?” sebuah suara dari arah dapur memaksa Gabriel menghentikan langkahnya . “Udah ma ..” jawab Gabriel lesu seraya melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar .
Kamar bernuansa putih dengan beberapa titik polkadot tercetak di dinding . Putih , warna favorite Gabriel . Gabriel melempar tas nya ke atas meja belajarnya yang berukuran besar . Kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk , singgasananya ketika tidur . Ia mengedarkan pandangan . Beberapa poster besar bergambar pemusik atau pemain sepak bola kesukaannya ikut meramaikan kamar Gabriel . Sebuah gitar klasik tergantung disudut kamar . Edaran pandangan Gabriel terhenti ketika Ia melihat sebuah pigura foto di atas meja lampu . Seorang pria dengan rambut cepak sedang tersenyum lebar , dan seorang gadis disebelahnya tersenyum malu-malu . Pria itu adalah Gabriel .
“shilla .. gue kangen elo” rintih Gabriel tertahan . Gabriel menggigit bibir , meredam sesak yang tiba-tiba menyeruak di hatinya . Peristiwa itu kembali terngiang . Peristiwa tak disengaja yang menyebabkan Gabriel selalu saja merutuki kebodohannya . Peristiwa yang menyebabkan si gadis didalam pigura tersebut yang ternyata bernama Shilla ,menjauhi Gabriel .
Gabriel meraih handphone disaku celananya . Memencet-mencet tombol yang tertera . Dua belas digit nomor yang sudah ia hapal di luar kepala terlihat di layar . Sejenak , Gabriel menimang-nimang handphone nya , bingung . Akhirnya ia memutuskan untuk memencet tombol bergambar telpon berwarna hijau . Gabriel mendekatkan handphone itu ke telinga nya . Suara nada beruntun membuat Gabriel kembali menggigit bibir . “Shilla .. “ desahnya pelan . Untuk kesekian kalinya telpon Gabriel di reject Shilla . Lelah sudah Gabriel memikirkan semua ini . Sebenarnya ada apa dibalik ini semua ? pikirnya .
***
Pagi yang indah ketika sang surya dengan gagah menampakkan wujudnya . Saat burung-burung berterbangan dilangit biru , saling menyapa satu sama lain .
Gabriel membuka tirai putih dikamarnya . membiarkan beberapa berkas cahaya matahari menerobos jendela kamarnya , membentuk petak-petak cahaya dilantai . Ia kemudian meraih tas nya yang tergeletak di atas meja . Dengan tergesa Gabriel menuruni tangga ,sesekali melirik seragamnya , mengecek apakah ada yang kurang atau tidak . “sip lah . udah lengkap !” seru Gabriel disaat kakinya telah selesai menginjak anak tangga . Bergegas ia menuju ruang tengah . Seorang wanita paruh baya sedang bercengkrama bersama lelaki yang sedikit lebih tua dari nya diruang itu . Terlihat sang lelaki beberapa kali menyeruput teh yang tersedia .Dengan senyum mengembang , Gabriel kemudian mendekati kedua orang tersebut .
“ma .. pa .. aku pergi dulu ya ..” pamit Gabriel pada kedua orang tuanya . “iyaa . eh seneng banget kayaknya ?” ujar mama Gabriel disaat Gabriel mengecup punggung tangannya . Gabriel yang mendengar itu langsung tersipu , menyebabkan rona kemerahan tampak dari kulit wajahnya yang putih . Gabriel kemudian tersenyum kecil . Setelah berpamitan , dengan langkah lebar Gabriel berjalan menuju garasi . Menghampiri ninja merah miliknya .
***
Pada saat jam pelajaran dimulai , pikiran Gabriel tak menetap di raga nya . Gabriel terlalu senang memikirkan peristiwa tadi malam . Peristiwa yang menurutnya adalah akhir dari semua kegundahan yang telah dialaminya akhir-akhir ini .
-FlashBack-
Malam telah larut . Jarum jam menunjuk pada angka sebelas dan tiga , namun Gabriel masih terjaga . “eum , jam sebelas lima belas ..” gumam Gabriel pelan , bahkan hampir tak bersuara . Getaran dari handphone Gabriel yang terletak disamping bantal nya membuat Gabriel terkejut . Dengan sedikit menggerutu Gabriel meraih hanphone miliknya . One message received . Gabriel mengerutkan kening , menaikkan sebelah alisnya . “siapa nih sms malem malem gini ..” ucapnya . Gabriel kemudian membuka isi pesan singkat tersebut .
From : 085758374***
Yel , maaf td aku ga bs angkt telf . bsk bs ktmu ga ? plg sklh dicafe biasa . shilla .
Gabriel membelalakkan mata saat mengetahui siapa pengirim pesan singkat tersebut . Senyum mengembang terukir diwajahnya . Secepat kilat Gabriel membalas pesan singkat itu .
To : 085758374***
Ya shill . I’ll be waiting for you . ^.^
-FlashBack End-
Senyuman itu terus terukir diwajah Gabriel . Ketika jam pelajaran berakhir , Gabriel memasukkan buku-bukunya dengan tergesa . Dipikirannya kini hanya satu , Shilla . Gabriel kemudian melangkah cepat menuju parkiran sekolah . Jarak yang hanya beberapa puluh meter itu , terasa beribu-ribu meter dilaluinya .
***
Dicafe itu Gabriel menunggu . Lewat satu jam sudah dari waktu perjanjian namun dengan sabar Gabriel duduk tenang dikursi yang terletak sedikit di sudut ruangan . Sudah tak terhitung ia melirik arloji hitam dipergelangan tangannya .
‘menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
saatku harus bersabar dan trus bersabar menantikan kehadiran dirimu’
Lirik lagu yang dinyanyikan oleh band yang sedang tampil dicafe itu membuat Gabriel mencelos . Memang hanya diawal lagu , tapi itu cukup membuat Gabriel tersinggung . Jus sirsak yang sedari tadi menemani Gabriel seakan telah letih bersamanya . Gabriel menyeruput jus tersebut , ia menghentikan seruputan nya ketika menyadari jus sirsak itu terasa hambar . Tawar .
Gabriel mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja , membuat ketukan sembarang agar lagu tersebut tak memasuki gendang telinganya . Gabriel melirik kembali arlojinya . Pukul 17.00 . Gabriel menghela nafas berat , putus asa . Gabriel memutuskan untuk beranjak , lebih baik ia pulang kerumah ,pikirnya .
Langkah Gabriel terhenti ketika Shilla tiba-tiba berada dihadapannya menggandeng lengan sesosok cowok berwajah oriental . Hati Gabriel memanas seketika melihat pemandangan itu . Namun Gabriel menahannya , berusaha sabar dan mendengar penjelasan Shilla bahwa lelaki dihadapannya kini hanyalah adik atau abang shilla . hah , hati Gabriel kembali mencelos . bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu , bukankah ia telah mengenal baik keluarga Shilla ?
“Yel .. aku mau jelasin ke kamu ..” ujar shilla . “apa ?” tanya Gabriel kasar , amarah mulai menguasai diri nya . Shilla kemudian menunjuk kursi tempat Gabriel duduk , menunggu sedari tadi . Dengan isyarat tangan , Shilla mengajak Gabriel untuk duduk . Gabriel menurut . Hati Gabriel kembali memanas ketika lelaki itu menggeser kursi , mempersilahkan Shilla duduk . Seharusnya itu adalah tugasnya ,pikir Gabriel .
“em , maaf aku telat . Alvin baru bisa jemput jam empat” ucap shilla seraya menunjuk Alvin dengan lirikan matanya . Gabriel menaikkan sebelah alisnya melirik Alvin sekilas , ‘oh , jadi nama nya Alvin .. kerenan juga nama gue ..’batin Gabriel kesal . Gabriel kembali menatap Shilla . Menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari bibir Shilla . Shilla menghela nafas , “yel . kita putus ya ..”
JLEBB
Kata-kata Shilla seakan menusuk hati Gabriel . Sangat tajam . Gabriel meringis , namun ia tak menahan Shilla yang ingin lepas dari pelukannya . “Aku pamit . makasih buat waktunya ..” ujar shilla . Sepertinya Shilla sama sekali tak merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Gabriel , buktinya , dengan lembutnya Shilla menarik lengan Alvin dan menggenggam jemari kokoh itu dihadapan Gabriel . Gabriel merutuki kebodohannya , bukan karena kesalahan tak sengaja pada peristiwa itu , tapi karena dengan mudahnya ia mempercayai kata-kata shilla . Janji-janji shilla bahwa ia tak akan pernah pergi dari rengkuhan Gabriel . Gabriel tersenyum miris mengingat itu semua .
“Bodoh” ujarnya seraya meninju meja . Tak dipedulikannya tatapan aneh dari pengunjung café yang lain . Gabriel kemudian melangkah gontai menuju pintu café . pikirannya berkecamuk . Ia bahkan mungkin tak sadar mengucapkan sederet kalimat pada setiap orang yang dilewatinya dicafe . “gue benci sama yang namanya janji . Janji itu Palsu..”
^THE END^
janji itu palsu
Janji . Begitu sering mereka mengucap janji . Mengatakan kata-kata kebohongan agar dipercaya . Kata-kata bermajas hiperbola yang sungguh memuakkan . Janji itu palsu .
***
Gabriel merebahkan tubuhnya diatas sofa . Menatap miris langit-langit ruang tamu rumahnya yang bercat kelabu . Kelabu seperti apa yang sedang ia rasakan kini . Gabriel mendesah pelan dan memejamkan matanya perlahan . Terngiang kembali dipikirannya peristiwa tiga hari yang lalu . Peristiwa yang membuat dirinya menggalau sejak kemarin . Ia tak mengerti mengapa semua nya tiba-tiba saja berubah . Semua ini terlalu rumit , pikirnya . Gabriel beranjak dari duduknya , meraih tas nya yang tergeletak lemah dilantai . Dengan langkah gontai Gabriel berjalan menuju kamarnya .
“Udah pulang ,yel ?” sebuah suara dari arah dapur memaksa Gabriel menghentikan langkahnya . “Udah ma ..” jawab Gabriel lesu seraya melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar .
Kamar bernuansa putih dengan beberapa titik polkadot tercetak di dinding . Putih , warna favorite Gabriel . Gabriel melempar tas nya ke atas meja belajarnya yang berukuran besar . Kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk , singgasananya ketika tidur . Ia mengedarkan pandangan . Beberapa poster besar bergambar pemusik atau pemain sepak bola kesukaannya ikut meramaikan kamar Gabriel . Sebuah gitar klasik tergantung disudut kamar . Edaran pandangan Gabriel terhenti ketika Ia melihat sebuah pigura foto di atas meja lampu . Seorang pria dengan rambut cepak sedang tersenyum lebar , dan seorang gadis disebelahnya tersenyum malu-malu . Pria itu adalah Gabriel .
“shilla .. gue kangen elo” rintih Gabriel tertahan . Gabriel menggigit bibir , meredam sesak yang tiba-tiba menyeruak di hatinya . Peristiwa itu kembali terngiang . Peristiwa tak disengaja yang menyebabkan Gabriel selalu saja merutuki kebodohannya . Peristiwa yang menyebabkan si gadis didalam pigura tersebut yang ternyata bernama Shilla ,menjauhi Gabriel .
Gabriel meraih handphone disaku celananya . Memencet-mencet tombol yang tertera . Dua belas digit nomor yang sudah ia hapal di luar kepala terlihat di layar . Sejenak , Gabriel menimang-nimang handphone nya , bingung . Akhirnya ia memutuskan untuk memencet tombol bergambar telpon berwarna hijau . Gabriel mendekatkan handphone itu ke telinga nya . Suara nada beruntun membuat Gabriel kembali menggigit bibir . “Shilla .. “ desahnya pelan . Untuk kesekian kalinya telpon Gabriel di reject Shilla . Lelah sudah Gabriel memikirkan semua ini . Sebenarnya ada apa dibalik ini semua ? pikirnya .
***
Pagi yang indah ketika sang surya dengan gagah menampakkan wujudnya . Saat burung-burung berterbangan dilangit biru , saling menyapa satu sama lain .
Gabriel membuka tirai putih dikamarnya . membiarkan beberapa berkas cahaya matahari menerobos jendela kamarnya , membentuk petak-petak cahaya dilantai . Ia kemudian meraih tas nya yang tergeletak di atas meja . Dengan tergesa Gabriel menuruni tangga ,sesekali melirik seragamnya , mengecek apakah ada yang kurang atau tidak . “sip lah . udah lengkap !” seru Gabriel disaat kakinya telah selesai menginjak anak tangga . Bergegas ia menuju ruang tengah . Seorang wanita paruh baya sedang bercengkrama bersama lelaki yang sedikit lebih tua dari nya diruang itu . Terlihat sang lelaki beberapa kali menyeruput teh yang tersedia .Dengan senyum mengembang , Gabriel kemudian mendekati kedua orang tersebut .
“ma .. pa .. aku pergi dulu ya ..” pamit Gabriel pada kedua orang tuanya . “iyaa . eh seneng banget kayaknya ?” ujar mama Gabriel disaat Gabriel mengecup punggung tangannya . Gabriel yang mendengar itu langsung tersipu , menyebabkan rona kemerahan tampak dari kulit wajahnya yang putih . Gabriel kemudian tersenyum kecil . Setelah berpamitan , dengan langkah lebar Gabriel berjalan menuju garasi . Menghampiri ninja merah miliknya .
***
Pada saat jam pelajaran dimulai , pikiran Gabriel tak menetap di raga nya . Gabriel terlalu senang memikirkan peristiwa tadi malam . Peristiwa yang menurutnya adalah akhir dari semua kegundahan yang telah dialaminya akhir-akhir ini .
-FlashBack-
Malam telah larut . Jarum jam menunjuk pada angka sebelas dan tiga , namun Gabriel masih terjaga . “eum , jam sebelas lima belas ..” gumam Gabriel pelan , bahkan hampir tak bersuara . Getaran dari handphone Gabriel yang terletak disamping bantal nya membuat Gabriel terkejut . Dengan sedikit menggerutu Gabriel meraih hanphone miliknya . One message received . Gabriel mengerutkan kening , menaikkan sebelah alisnya . “siapa nih sms malem malem gini ..” ucapnya . Gabriel kemudian membuka isi pesan singkat tersebut .
From : 085758374***
Yel , maaf td aku ga bs angkt telf . bsk bs ktmu ga ? plg sklh dicafe biasa . shilla .
Gabriel membelalakkan mata saat mengetahui siapa pengirim pesan singkat tersebut . Senyum mengembang terukir diwajahnya . Secepat kilat Gabriel membalas pesan singkat itu .
To : 085758374***
Ya shill . I’ll be waiting for you . ^.^
-FlashBack End-
Senyuman itu terus terukir diwajah Gabriel . Ketika jam pelajaran berakhir , Gabriel memasukkan buku-bukunya dengan tergesa . Dipikirannya kini hanya satu , Shilla . Gabriel kemudian melangkah cepat menuju parkiran sekolah . Jarak yang hanya beberapa puluh meter itu , terasa beribu-ribu meter dilaluinya .
***
Dicafe itu Gabriel menunggu . Lewat satu jam sudah dari waktu perjanjian namun dengan sabar Gabriel duduk tenang dikursi yang terletak sedikit di sudut ruangan . Sudah tak terhitung ia melirik arloji hitam dipergelangan tangannya .
‘menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
saatku harus bersabar dan trus bersabar menantikan kehadiran dirimu’
Lirik lagu yang dinyanyikan oleh band yang sedang tampil dicafe itu membuat Gabriel mencelos . Memang hanya diawal lagu , tapi itu cukup membuat Gabriel tersinggung . Jus sirsak yang sedari tadi menemani Gabriel seakan telah letih bersamanya . Gabriel menyeruput jus tersebut , ia menghentikan seruputan nya ketika menyadari jus sirsak itu terasa hambar . Tawar .
Gabriel mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja , membuat ketukan sembarang agar lagu tersebut tak memasuki gendang telinganya . Gabriel melirik kembali arlojinya . Pukul 17.00 . Gabriel menghela nafas berat , putus asa . Gabriel memutuskan untuk beranjak , lebih baik ia pulang kerumah ,pikirnya .
Langkah Gabriel terhenti ketika Shilla tiba-tiba berada dihadapannya menggandeng lengan sesosok cowok berwajah oriental . Hati Gabriel memanas seketika melihat pemandangan itu . Namun Gabriel menahannya , berusaha sabar dan mendengar penjelasan Shilla bahwa lelaki dihadapannya kini hanyalah adik atau abang shilla . hah , hati Gabriel kembali mencelos . bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu , bukankah ia telah mengenal baik keluarga Shilla ?
“Yel .. aku mau jelasin ke kamu ..” ujar shilla . “apa ?” tanya Gabriel kasar , amarah mulai menguasai diri nya . Shilla kemudian menunjuk kursi tempat Gabriel duduk , menunggu sedari tadi . Dengan isyarat tangan , Shilla mengajak Gabriel untuk duduk . Gabriel menurut . Hati Gabriel kembali memanas ketika lelaki itu menggeser kursi , mempersilahkan Shilla duduk . Seharusnya itu adalah tugasnya ,pikir Gabriel .
“em , maaf aku telat . Alvin baru bisa jemput jam empat” ucap shilla seraya menunjuk Alvin dengan lirikan matanya . Gabriel menaikkan sebelah alisnya melirik Alvin sekilas , ‘oh , jadi nama nya Alvin .. kerenan juga nama gue ..’batin Gabriel kesal . Gabriel kembali menatap Shilla . Menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari bibir Shilla . Shilla menghela nafas , “yel . kita putus ya ..”
JLEBB
Kata-kata Shilla seakan menusuk hati Gabriel . Sangat tajam . Gabriel meringis , namun ia tak menahan Shilla yang ingin lepas dari pelukannya . “Aku pamit . makasih buat waktunya ..” ujar shilla . Sepertinya Shilla sama sekali tak merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Gabriel , buktinya , dengan lembutnya Shilla menarik lengan Alvin dan menggenggam jemari kokoh itu dihadapan Gabriel . Gabriel merutuki kebodohannya , bukan karena kesalahan tak sengaja pada peristiwa itu , tapi karena dengan mudahnya ia mempercayai kata-kata shilla . Janji-janji shilla bahwa ia tak akan pernah pergi dari rengkuhan Gabriel . Gabriel tersenyum miris mengingat itu semua .
“Bodoh” ujarnya seraya meninju meja . Tak dipedulikannya tatapan aneh dari pengunjung café yang lain . Gabriel kemudian melangkah gontai menuju pintu café . pikirannya berkecamuk . Ia bahkan mungkin tak sadar mengucapkan sederet kalimat pada setiap orang yang dilewatinya dicafe . “gue benci sama yang namanya janji . Janji itu Palsu..”
^THE END^
***
Gabriel merebahkan tubuhnya diatas sofa . Menatap miris langit-langit ruang tamu rumahnya yang bercat kelabu . Kelabu seperti apa yang sedang ia rasakan kini . Gabriel mendesah pelan dan memejamkan matanya perlahan . Terngiang kembali dipikirannya peristiwa tiga hari yang lalu . Peristiwa yang membuat dirinya menggalau sejak kemarin . Ia tak mengerti mengapa semua nya tiba-tiba saja berubah . Semua ini terlalu rumit , pikirnya . Gabriel beranjak dari duduknya , meraih tas nya yang tergeletak lemah dilantai . Dengan langkah gontai Gabriel berjalan menuju kamarnya .
“Udah pulang ,yel ?” sebuah suara dari arah dapur memaksa Gabriel menghentikan langkahnya . “Udah ma ..” jawab Gabriel lesu seraya melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar .
Kamar bernuansa putih dengan beberapa titik polkadot tercetak di dinding . Putih , warna favorite Gabriel . Gabriel melempar tas nya ke atas meja belajarnya yang berukuran besar . Kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk , singgasananya ketika tidur . Ia mengedarkan pandangan . Beberapa poster besar bergambar pemusik atau pemain sepak bola kesukaannya ikut meramaikan kamar Gabriel . Sebuah gitar klasik tergantung disudut kamar . Edaran pandangan Gabriel terhenti ketika Ia melihat sebuah pigura foto di atas meja lampu . Seorang pria dengan rambut cepak sedang tersenyum lebar , dan seorang gadis disebelahnya tersenyum malu-malu . Pria itu adalah Gabriel .
“shilla .. gue kangen elo” rintih Gabriel tertahan . Gabriel menggigit bibir , meredam sesak yang tiba-tiba menyeruak di hatinya . Peristiwa itu kembali terngiang . Peristiwa tak disengaja yang menyebabkan Gabriel selalu saja merutuki kebodohannya . Peristiwa yang menyebabkan si gadis didalam pigura tersebut yang ternyata bernama Shilla ,menjauhi Gabriel .
Gabriel meraih handphone disaku celananya . Memencet-mencet tombol yang tertera . Dua belas digit nomor yang sudah ia hapal di luar kepala terlihat di layar . Sejenak , Gabriel menimang-nimang handphone nya , bingung . Akhirnya ia memutuskan untuk memencet tombol bergambar telpon berwarna hijau . Gabriel mendekatkan handphone itu ke telinga nya . Suara nada beruntun membuat Gabriel kembali menggigit bibir . “Shilla .. “ desahnya pelan . Untuk kesekian kalinya telpon Gabriel di reject Shilla . Lelah sudah Gabriel memikirkan semua ini . Sebenarnya ada apa dibalik ini semua ? pikirnya .
***
Pagi yang indah ketika sang surya dengan gagah menampakkan wujudnya . Saat burung-burung berterbangan dilangit biru , saling menyapa satu sama lain .
Gabriel membuka tirai putih dikamarnya . membiarkan beberapa berkas cahaya matahari menerobos jendela kamarnya , membentuk petak-petak cahaya dilantai . Ia kemudian meraih tas nya yang tergeletak di atas meja . Dengan tergesa Gabriel menuruni tangga ,sesekali melirik seragamnya , mengecek apakah ada yang kurang atau tidak . “sip lah . udah lengkap !” seru Gabriel disaat kakinya telah selesai menginjak anak tangga . Bergegas ia menuju ruang tengah . Seorang wanita paruh baya sedang bercengkrama bersama lelaki yang sedikit lebih tua dari nya diruang itu . Terlihat sang lelaki beberapa kali menyeruput teh yang tersedia .Dengan senyum mengembang , Gabriel kemudian mendekati kedua orang tersebut .
“ma .. pa .. aku pergi dulu ya ..” pamit Gabriel pada kedua orang tuanya . “iyaa . eh seneng banget kayaknya ?” ujar mama Gabriel disaat Gabriel mengecup punggung tangannya . Gabriel yang mendengar itu langsung tersipu , menyebabkan rona kemerahan tampak dari kulit wajahnya yang putih . Gabriel kemudian tersenyum kecil . Setelah berpamitan , dengan langkah lebar Gabriel berjalan menuju garasi . Menghampiri ninja merah miliknya .
***
Pada saat jam pelajaran dimulai , pikiran Gabriel tak menetap di raga nya . Gabriel terlalu senang memikirkan peristiwa tadi malam . Peristiwa yang menurutnya adalah akhir dari semua kegundahan yang telah dialaminya akhir-akhir ini .
-FlashBack-
Malam telah larut . Jarum jam menunjuk pada angka sebelas dan tiga , namun Gabriel masih terjaga . “eum , jam sebelas lima belas ..” gumam Gabriel pelan , bahkan hampir tak bersuara . Getaran dari handphone Gabriel yang terletak disamping bantal nya membuat Gabriel terkejut . Dengan sedikit menggerutu Gabriel meraih hanphone miliknya . One message received . Gabriel mengerutkan kening , menaikkan sebelah alisnya . “siapa nih sms malem malem gini ..” ucapnya . Gabriel kemudian membuka isi pesan singkat tersebut .
From : 085758374***
Yel , maaf td aku ga bs angkt telf . bsk bs ktmu ga ? plg sklh dicafe biasa . shilla .
Gabriel membelalakkan mata saat mengetahui siapa pengirim pesan singkat tersebut . Senyum mengembang terukir diwajahnya . Secepat kilat Gabriel membalas pesan singkat itu .
To : 085758374***
Ya shill . I’ll be waiting for you . ^.^
-FlashBack End-
Senyuman itu terus terukir diwajah Gabriel . Ketika jam pelajaran berakhir , Gabriel memasukkan buku-bukunya dengan tergesa . Dipikirannya kini hanya satu , Shilla . Gabriel kemudian melangkah cepat menuju parkiran sekolah . Jarak yang hanya beberapa puluh meter itu , terasa beribu-ribu meter dilaluinya .
***
Dicafe itu Gabriel menunggu . Lewat satu jam sudah dari waktu perjanjian namun dengan sabar Gabriel duduk tenang dikursi yang terletak sedikit di sudut ruangan . Sudah tak terhitung ia melirik arloji hitam dipergelangan tangannya .
‘menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
saatku harus bersabar dan trus bersabar menantikan kehadiran dirimu’
Lirik lagu yang dinyanyikan oleh band yang sedang tampil dicafe itu membuat Gabriel mencelos . Memang hanya diawal lagu , tapi itu cukup membuat Gabriel tersinggung . Jus sirsak yang sedari tadi menemani Gabriel seakan telah letih bersamanya . Gabriel menyeruput jus tersebut , ia menghentikan seruputan nya ketika menyadari jus sirsak itu terasa hambar . Tawar .
Gabriel mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja , membuat ketukan sembarang agar lagu tersebut tak memasuki gendang telinganya . Gabriel melirik kembali arlojinya . Pukul 17.00 . Gabriel menghela nafas berat , putus asa . Gabriel memutuskan untuk beranjak , lebih baik ia pulang kerumah ,pikirnya .
Langkah Gabriel terhenti ketika Shilla tiba-tiba berada dihadapannya menggandeng lengan sesosok cowok berwajah oriental . Hati Gabriel memanas seketika melihat pemandangan itu . Namun Gabriel menahannya , berusaha sabar dan mendengar penjelasan Shilla bahwa lelaki dihadapannya kini hanyalah adik atau abang shilla . hah , hati Gabriel kembali mencelos . bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu , bukankah ia telah mengenal baik keluarga Shilla ?
“Yel .. aku mau jelasin ke kamu ..” ujar shilla . “apa ?” tanya Gabriel kasar , amarah mulai menguasai diri nya . Shilla kemudian menunjuk kursi tempat Gabriel duduk , menunggu sedari tadi . Dengan isyarat tangan , Shilla mengajak Gabriel untuk duduk . Gabriel menurut . Hati Gabriel kembali memanas ketika lelaki itu menggeser kursi , mempersilahkan Shilla duduk . Seharusnya itu adalah tugasnya ,pikir Gabriel .
“em , maaf aku telat . Alvin baru bisa jemput jam empat” ucap shilla seraya menunjuk Alvin dengan lirikan matanya . Gabriel menaikkan sebelah alisnya melirik Alvin sekilas , ‘oh , jadi nama nya Alvin .. kerenan juga nama gue ..’batin Gabriel kesal . Gabriel kembali menatap Shilla . Menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari bibir Shilla . Shilla menghela nafas , “yel . kita putus ya ..”
JLEBB
Kata-kata Shilla seakan menusuk hati Gabriel . Sangat tajam . Gabriel meringis , namun ia tak menahan Shilla yang ingin lepas dari pelukannya . “Aku pamit . makasih buat waktunya ..” ujar shilla . Sepertinya Shilla sama sekali tak merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Gabriel , buktinya , dengan lembutnya Shilla menarik lengan Alvin dan menggenggam jemari kokoh itu dihadapan Gabriel . Gabriel merutuki kebodohannya , bukan karena kesalahan tak sengaja pada peristiwa itu , tapi karena dengan mudahnya ia mempercayai kata-kata shilla . Janji-janji shilla bahwa ia tak akan pernah pergi dari rengkuhan Gabriel . Gabriel tersenyum miris mengingat itu semua .
“Bodoh” ujarnya seraya meninju meja . Tak dipedulikannya tatapan aneh dari pengunjung café yang lain . Gabriel kemudian melangkah gontai menuju pintu café . pikirannya berkecamuk . Ia bahkan mungkin tak sadar mengucapkan sederet kalimat pada setiap orang yang dilewatinya dicafe . “gue benci sama yang namanya janji . Janji itu Palsu..”
^THE END^
Kamis, 19 Mei 2011
dia -one shot story-
Beribu-ribu batako terhampar , menyatu membentuk sebuah lapangan yang luas . Bunga yang bermekaran terlihat menghiasi beberapa sisi lapangan . Langit biru yang membentang indah dengan suara kicauan burung yang saling sahut-menyahut menambah indah suasana . Cukup nyaman berada disini ketika pagi hari .
Alvin beranjak dari duduknya saat sang surya mulai berani menampakkan diri , menyilaukan pandangan mata .
“Bagi seluruh siswa , setelah meletakkan tas dikelas , diharapkan untuk segera turun ke lapangan . Upacara akan dimulai” suara Pak Gino menggema . Tanpa menggunakan microphone pun sebenarnya suara Pak Gino sudah bisa didengar diseluruh penjuru sekolah . Hebat bukan ? suara itu seperti dialiri listrik bertegangan 100volt . Alvin melirik arloji hitam dipergelangan tangan kanannya . “huh ! masih setengah jam lagi kok udah teriak-teriak gak jelas ! dasar orang tua .” Alvin merutuki perbuatan gurunya tersebut . Ya , waktu memang masih menunjukkan pukul 06.30 . Tapi beginilah kehidupan disekolah menengah atas yang bertaraf tinggi . 30 menit sebelum masuk , ada saja teriakan yang membisingkan telinga .
Akhirnya , daripada menghabiskan tenaganya untuk ke kelas yang berada dilantai tiga , Alvin memutuskan menunggu upacara seraya duduk kembali disinggasananya . Menikmati kembali keindahan suasana pagi walau kini matahari sedikit terik . Alvin mengangkat kaki , menumpukan kaki kanan pada lutut kirinya . Merogoh saku . mencari teman kesayangannya . Rubik . Dengan lincah jari-jari Alvin memainkan benda ajaib berbentuk kotak tersebut . Sudah menjadi kebiasaan Alvin tiap pagi duduk dibawah pohon yang cukup rindang disisi lapangan dengan beberapa batako berdiri kokoh mengitari akar pohon . Batako yang selama ini menjadi singgasana Alvin ketika ia ingin mengilangkan kegundahannya dengan merasakan indahnya panorama pagi .
“Heh ! kenapa masih duduk disitu ! kamu gak dengar apa yang saya katakan tadi ?!” kalimat yang dilontarkan Pak Gino terdengar seperti kalimat perintah yang sangat memaksa . Alvin terperanjat , Namun dengan segera ia hilangkan raut wajah kaget itu menjadi normal kembali . Alvin mengangkat alisnya santai ,memasukkan rubiknya kedalam saku . Kemudian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring . Senyum merendahkan . Pak Gino terlihat berang dengan kelakuan Alvin . Matanya yang sipit seperti tersiksa karena dipaksakan untuk melotot . Rahangnya mengeras . Sebelum Pak Gino melontarkan kembali sebuah kalimat yang sangat menyesakkan , Alvin segera beranjak dari duduknya . Bukan karena ia takut , tapi Alvin tak mau telinganya rusak hanya karena mendengar ocehan tak jelas dari pemilik suara 100 Volt tersebut .
Alvin melangkah pelan menuju barisan kelasnya ditengah lapangan . Teman-temannya yang melihat kejadian itu menatap Alvin miris . Sedikit mengasihani sang pemuda . Walaupun itu sudah menjadi tontonan rutin setiap senin pagi semenjak tiga bulan yang lalu . Alvin membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin .
Alvin memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kemudian masuk kedalam barisan . Teman-temannya langsung memberondong Alvin dengan sejuta komentar yang menurut Alvin sangat tidak penting .
“Gila lo Vin !”
“Ada apa sih sama lo , Vin ?”
Dan komentar yang membuat Alvin berang adalah ketika Rio , musuhnya berkata , “Bokap sendiri kok digituin . Mau jadi anak durhaka lo !”
Alvin menajamkan matanya menatap kesal pada makhluk bernama Rio itu . Bisa-bisanya dia ngomong gitu,pikir Alvin .
Rio memasang tampang sengak , ia tak mau kalah kali ini setelah puluhan kali ia dikalahkan oleh Alvin . Dengan gerakan cepat , Alvin mencengkeram kerah Rio menggunakan tangan kirinya , sedangkan tangan kanannya mengepal tepat didepan batang hidung Rio .
“Lo ! jangan sok tau !” Alvin berkata pelan , namun terdengar tajam ditelinga. Nyali Rio ciut . Alvin terlihat sangat meyeramkan ,pikir Rio . Belum pernah Alvin menampakkan sosoknya yang begitu sangar . “So..Sorry” ujar Rio pelan . Lebih baik ia meminta maaf daripada harus masuk rumah sakit karena tinjunya sikarate bersabuk hitam itu meremukkan wajahnya . Alvin memutuskan untuk melepaskan cengkeramannya pada seragam Rio . “Jangan macam-macam sama gue !” bentak Alvin seraya mencoba menetralkan emosinya . Nafasnya masih tak beraturan . Rio menunduk , menahan rasa malu . Bukankah dia yang duluan menyulut kemarahan Alvin dan sekarang dia yang ketakutan ? pengecut ,pikirnya .
Alvin memutar tubuhnya menghadap kedepan . Mencoba mengatur nafasnya yang terdengar sangat berantakan . Alvin memakai topi berwarna abu-abu yang sedari tadi tergantung diikat pinggangnya . Bukan topi sekolah , melainksn topi biasa, polos.
“Upacara pengibaran bendera segera dimulai . Masing-masing ketua kelas menyiapkan barisannya” suara dirigen terdengar lantang . Seluruh ketua kelas pun merapikan barisannya . Alvin yang berdiri tiga baris dari belakang , hanya berdiam . Tak mengikuti aba-aba dari ketua kelasnya walaupun sudah berkali-kali sang ketua kelas menegurnya . “Lo urus yang lain aja ! gue bisa ngurus diri gue sendiri” ujarnya setelah Cakka ,sang ketua kelas menghampirinya dan menyuruhnya untuk bergeser sedikit kekanan . mendengar itu , Cakka hanya mendengus kesal dan kembali kebarisan .
Pak Gino yang melihat kelakuan Alvin langsung mengambil langkah seribu , mendekati pemuda itu . Kemudian beliau berdehem keras tepat ditelinga Alvin . Sekali lagi Alvin terperanjat , namun bukan Alvin jika ia tidak bisa dengan cepat mengubah raut wajahnya . Dengan santai , Alvin melangkah kedepan , menyuruh Deva untuk bertukar posisi dengannya . Deva mengerutkan kening ,bingung . Apa yang harus ia lakukan ? Jika ia tak menuruti Pak Gino , ia akan mendapat panggilan ke BP nantinya ,tapi jika ia tak menuruti Alvin … Deva meneguk ludah . Membayangkan apa yang akan Alvin lakukan padanya saja sudah membuatnya bergidik ngeri . Alvin melotot “ Lama banget , lo gak mau tukeran posisi sama gue ?” tanya Alvin . Deva mengeleng . “Gu..gue ma..mau kok” dengan langkah lebar , Deva melangkahkan kakinya kebelakang . Tak perduli lagi dengan Pak Gino yang tengah menatapnya tajam . Sementara Alvin tersenyum lebar .
Pak Gino mengelus dada ,berusaha meredam emosinya . Tapi percuma . Kemarahannya telah membuncah sampai ke ubun-ubun kepalanya .
Bugg..!
Satu tendangan keras dari kaki Pak Gino mendarat dibetis Alvin .”Arrghh!!” jerit Alvin . Ia kemudian memutar badan menghadap Pak Gino , Memicingkan mata , menatap Pak Gino tajam .
“Maksud lo apa ?” tanya Alvin lantang . Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya . Pak Gino terbelalak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alvin . Upacara terhenti , semua mata kini mengarah pada mereka . Namun Alvin dan Pak Gino tak perduli , mereka terlalu larut dalam emosi masing-masing . “Kamu ! Saya didik kamu tidak begini ! saya mendidik kamu supaya berbakti dengan orang tua !” bentak Pak Gino . Alvin tersenyum miring .
Entah mengapa tak ada satupun yang berani menghentikan mereka . Apa karna Pak Gino pemilik sekaligus kepala sekolah ? atau karna Alvin yang notabene nya seorang karateka bersabuk hitam yang telah menjelajahi dunia ?
“lo BUKAN orang tua gue ! B-U-K-A-N” teriak Alvin seraya menekankan dan memperjelas kata ‘bukan’ .
Plakk..!!
Satu tamparan mendarat dipipi Alvin . Pipi nya yang berkulit putih itu kini memerah dan membentuk lima jari . Alvin terjerembab , namun dengan sigap ia berdiri . “lo itu cuma pembunuh mama gue !” Pak Gino kembali terbelalak , tangannya hendak menampar pipi Alvin jika seorang gadis tidak menghalanginya . “STOP PAA !!!” gadis itu berteriak seraya merentangkan kedua tangannya didepan Alvin , berusaha melindungi Alvin .
“Jangan pukul kak Alvin lagi paa .. Acha mohon ..” Acha kemudian memutar badannya menghadap Alvin , ditatapnya Alvin yang tengah termenung . “Dan kak Alvin .. Acha mohon .. terima Acha sama papa . Bunda meninggal bukan karena papa kak ..itu semua udah takdir .Sayangi kami kak ! walau kami hanya keluarga tiri kakak . Tapi Acha gak pernah nganggap kakak sebagai saudara tiri . Acha udah nganggap kakak bagian dari hidup Acha . hiks hiks ..” bulir bening itu mengalir dengan leluasa dipipi mulus Acha . Alvin terdiam . Pikirannya berkelebat dengan berbagai macam pertanyaan . Ia bingung apa yang harus dilakukannya kini . Apakah ia harus mempercayai kata-kata adik tirinya itu atau tetap berpendirian teguh pada keegoisannya ?
Dan disaat itulah dada bidang itu merengkuh tubuh Alvin dalam pelukan . Mengelus pelan puncak rambut Alvin . Memberi sedikit kekuatan walaupun sebenarnya Ia juga tak kuat menahan .
“Maafin Alvin..” suara serak Alvin membuat si dada bidang membelalak . Dilepaskannya pelukan itu perlahan . Ditatapnya Alvin yang sedang ,menangis ? Ia tak menyangka Alvin akan mengeluarkan air mata itu . Dengan sigap Ia meghapus airmata Alvin dengan jarinya . “Cowok kok nangis..” ujarnya . “Pak Gin .. eh .. papa apaan sih . siapa yang nangis ..” Alvin mengelak . Ia kini merasa , lega ? ya . sangat lega . sesaat kemudian tubuh mungil Acha memeluknya . “makasih kak ..” ujar Acha seraya tersenyum .
Semua mata yang melihat peristiwa itu tersenyum haru . Upacara berjalan kembali . Namun upacara ini kali ini terasa berbeda bagi Alvin . Upacara ini terasa khidmat kembali setelah tiga bulan terasa hampa baginya .
^THE END^
Alvin beranjak dari duduknya saat sang surya mulai berani menampakkan diri , menyilaukan pandangan mata .
“Bagi seluruh siswa , setelah meletakkan tas dikelas , diharapkan untuk segera turun ke lapangan . Upacara akan dimulai” suara Pak Gino menggema . Tanpa menggunakan microphone pun sebenarnya suara Pak Gino sudah bisa didengar diseluruh penjuru sekolah . Hebat bukan ? suara itu seperti dialiri listrik bertegangan 100volt . Alvin melirik arloji hitam dipergelangan tangan kanannya . “huh ! masih setengah jam lagi kok udah teriak-teriak gak jelas ! dasar orang tua .” Alvin merutuki perbuatan gurunya tersebut . Ya , waktu memang masih menunjukkan pukul 06.30 . Tapi beginilah kehidupan disekolah menengah atas yang bertaraf tinggi . 30 menit sebelum masuk , ada saja teriakan yang membisingkan telinga .
Akhirnya , daripada menghabiskan tenaganya untuk ke kelas yang berada dilantai tiga , Alvin memutuskan menunggu upacara seraya duduk kembali disinggasananya . Menikmati kembali keindahan suasana pagi walau kini matahari sedikit terik . Alvin mengangkat kaki , menumpukan kaki kanan pada lutut kirinya . Merogoh saku . mencari teman kesayangannya . Rubik . Dengan lincah jari-jari Alvin memainkan benda ajaib berbentuk kotak tersebut . Sudah menjadi kebiasaan Alvin tiap pagi duduk dibawah pohon yang cukup rindang disisi lapangan dengan beberapa batako berdiri kokoh mengitari akar pohon . Batako yang selama ini menjadi singgasana Alvin ketika ia ingin mengilangkan kegundahannya dengan merasakan indahnya panorama pagi .
“Heh ! kenapa masih duduk disitu ! kamu gak dengar apa yang saya katakan tadi ?!” kalimat yang dilontarkan Pak Gino terdengar seperti kalimat perintah yang sangat memaksa . Alvin terperanjat , Namun dengan segera ia hilangkan raut wajah kaget itu menjadi normal kembali . Alvin mengangkat alisnya santai ,memasukkan rubiknya kedalam saku . Kemudian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring . Senyum merendahkan . Pak Gino terlihat berang dengan kelakuan Alvin . Matanya yang sipit seperti tersiksa karena dipaksakan untuk melotot . Rahangnya mengeras . Sebelum Pak Gino melontarkan kembali sebuah kalimat yang sangat menyesakkan , Alvin segera beranjak dari duduknya . Bukan karena ia takut , tapi Alvin tak mau telinganya rusak hanya karena mendengar ocehan tak jelas dari pemilik suara 100 Volt tersebut .
Alvin melangkah pelan menuju barisan kelasnya ditengah lapangan . Teman-temannya yang melihat kejadian itu menatap Alvin miris . Sedikit mengasihani sang pemuda . Walaupun itu sudah menjadi tontonan rutin setiap senin pagi semenjak tiga bulan yang lalu . Alvin membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin .
Alvin memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kemudian masuk kedalam barisan . Teman-temannya langsung memberondong Alvin dengan sejuta komentar yang menurut Alvin sangat tidak penting .
“Gila lo Vin !”
“Ada apa sih sama lo , Vin ?”
Dan komentar yang membuat Alvin berang adalah ketika Rio , musuhnya berkata , “Bokap sendiri kok digituin . Mau jadi anak durhaka lo !”
Alvin menajamkan matanya menatap kesal pada makhluk bernama Rio itu . Bisa-bisanya dia ngomong gitu,pikir Alvin .
Rio memasang tampang sengak , ia tak mau kalah kali ini setelah puluhan kali ia dikalahkan oleh Alvin . Dengan gerakan cepat , Alvin mencengkeram kerah Rio menggunakan tangan kirinya , sedangkan tangan kanannya mengepal tepat didepan batang hidung Rio .
“Lo ! jangan sok tau !” Alvin berkata pelan , namun terdengar tajam ditelinga. Nyali Rio ciut . Alvin terlihat sangat meyeramkan ,pikir Rio . Belum pernah Alvin menampakkan sosoknya yang begitu sangar . “So..Sorry” ujar Rio pelan . Lebih baik ia meminta maaf daripada harus masuk rumah sakit karena tinjunya sikarate bersabuk hitam itu meremukkan wajahnya . Alvin memutuskan untuk melepaskan cengkeramannya pada seragam Rio . “Jangan macam-macam sama gue !” bentak Alvin seraya mencoba menetralkan emosinya . Nafasnya masih tak beraturan . Rio menunduk , menahan rasa malu . Bukankah dia yang duluan menyulut kemarahan Alvin dan sekarang dia yang ketakutan ? pengecut ,pikirnya .
Alvin memutar tubuhnya menghadap kedepan . Mencoba mengatur nafasnya yang terdengar sangat berantakan . Alvin memakai topi berwarna abu-abu yang sedari tadi tergantung diikat pinggangnya . Bukan topi sekolah , melainksn topi biasa, polos.
“Upacara pengibaran bendera segera dimulai . Masing-masing ketua kelas menyiapkan barisannya” suara dirigen terdengar lantang . Seluruh ketua kelas pun merapikan barisannya . Alvin yang berdiri tiga baris dari belakang , hanya berdiam . Tak mengikuti aba-aba dari ketua kelasnya walaupun sudah berkali-kali sang ketua kelas menegurnya . “Lo urus yang lain aja ! gue bisa ngurus diri gue sendiri” ujarnya setelah Cakka ,sang ketua kelas menghampirinya dan menyuruhnya untuk bergeser sedikit kekanan . mendengar itu , Cakka hanya mendengus kesal dan kembali kebarisan .
Pak Gino yang melihat kelakuan Alvin langsung mengambil langkah seribu , mendekati pemuda itu . Kemudian beliau berdehem keras tepat ditelinga Alvin . Sekali lagi Alvin terperanjat , namun bukan Alvin jika ia tidak bisa dengan cepat mengubah raut wajahnya . Dengan santai , Alvin melangkah kedepan , menyuruh Deva untuk bertukar posisi dengannya . Deva mengerutkan kening ,bingung . Apa yang harus ia lakukan ? Jika ia tak menuruti Pak Gino , ia akan mendapat panggilan ke BP nantinya ,tapi jika ia tak menuruti Alvin … Deva meneguk ludah . Membayangkan apa yang akan Alvin lakukan padanya saja sudah membuatnya bergidik ngeri . Alvin melotot “ Lama banget , lo gak mau tukeran posisi sama gue ?” tanya Alvin . Deva mengeleng . “Gu..gue ma..mau kok” dengan langkah lebar , Deva melangkahkan kakinya kebelakang . Tak perduli lagi dengan Pak Gino yang tengah menatapnya tajam . Sementara Alvin tersenyum lebar .
Pak Gino mengelus dada ,berusaha meredam emosinya . Tapi percuma . Kemarahannya telah membuncah sampai ke ubun-ubun kepalanya .
Bugg..!
Satu tendangan keras dari kaki Pak Gino mendarat dibetis Alvin .”Arrghh!!” jerit Alvin . Ia kemudian memutar badan menghadap Pak Gino , Memicingkan mata , menatap Pak Gino tajam .
“Maksud lo apa ?” tanya Alvin lantang . Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya . Pak Gino terbelalak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alvin . Upacara terhenti , semua mata kini mengarah pada mereka . Namun Alvin dan Pak Gino tak perduli , mereka terlalu larut dalam emosi masing-masing . “Kamu ! Saya didik kamu tidak begini ! saya mendidik kamu supaya berbakti dengan orang tua !” bentak Pak Gino . Alvin tersenyum miring .
Entah mengapa tak ada satupun yang berani menghentikan mereka . Apa karna Pak Gino pemilik sekaligus kepala sekolah ? atau karna Alvin yang notabene nya seorang karateka bersabuk hitam yang telah menjelajahi dunia ?
“lo BUKAN orang tua gue ! B-U-K-A-N” teriak Alvin seraya menekankan dan memperjelas kata ‘bukan’ .
Plakk..!!
Satu tamparan mendarat dipipi Alvin . Pipi nya yang berkulit putih itu kini memerah dan membentuk lima jari . Alvin terjerembab , namun dengan sigap ia berdiri . “lo itu cuma pembunuh mama gue !” Pak Gino kembali terbelalak , tangannya hendak menampar pipi Alvin jika seorang gadis tidak menghalanginya . “STOP PAA !!!” gadis itu berteriak seraya merentangkan kedua tangannya didepan Alvin , berusaha melindungi Alvin .
“Jangan pukul kak Alvin lagi paa .. Acha mohon ..” Acha kemudian memutar badannya menghadap Alvin , ditatapnya Alvin yang tengah termenung . “Dan kak Alvin .. Acha mohon .. terima Acha sama papa . Bunda meninggal bukan karena papa kak ..itu semua udah takdir .Sayangi kami kak ! walau kami hanya keluarga tiri kakak . Tapi Acha gak pernah nganggap kakak sebagai saudara tiri . Acha udah nganggap kakak bagian dari hidup Acha . hiks hiks ..” bulir bening itu mengalir dengan leluasa dipipi mulus Acha . Alvin terdiam . Pikirannya berkelebat dengan berbagai macam pertanyaan . Ia bingung apa yang harus dilakukannya kini . Apakah ia harus mempercayai kata-kata adik tirinya itu atau tetap berpendirian teguh pada keegoisannya ?
Dan disaat itulah dada bidang itu merengkuh tubuh Alvin dalam pelukan . Mengelus pelan puncak rambut Alvin . Memberi sedikit kekuatan walaupun sebenarnya Ia juga tak kuat menahan .
“Maafin Alvin..” suara serak Alvin membuat si dada bidang membelalak . Dilepaskannya pelukan itu perlahan . Ditatapnya Alvin yang sedang ,menangis ? Ia tak menyangka Alvin akan mengeluarkan air mata itu . Dengan sigap Ia meghapus airmata Alvin dengan jarinya . “Cowok kok nangis..” ujarnya . “Pak Gin .. eh .. papa apaan sih . siapa yang nangis ..” Alvin mengelak . Ia kini merasa , lega ? ya . sangat lega . sesaat kemudian tubuh mungil Acha memeluknya . “makasih kak ..” ujar Acha seraya tersenyum .
Semua mata yang melihat peristiwa itu tersenyum haru . Upacara berjalan kembali . Namun upacara ini kali ini terasa berbeda bagi Alvin . Upacara ini terasa khidmat kembali setelah tiga bulan terasa hampa baginya .
^THE END^
Rabu, 02 Maret 2011
cinta itu untuk diperjuangkan
“aku cinta sama kamu , kenapa sih kamu gak percaya sama aku ? dia itu sodara aku dan aku sama sekali gak ada apa-apa sama dia”jelas seorang cowok jangkung berparas hitam manis . ia kini sedang duduk berhadapan dengan kekasihnya , menjelaskan suatu perkara yang menurutnya hanya hal sepele namun susah sekali untuk membuat gadis didepannya ini percaya . gadis dihadapannya hanya menghela napas panjang lalu beranjak dari kursinya .
“aku capek” ujar gadis itu singkat lalu pergi meninggalkan cowok itu . “suci ! tunggu ! aku anterin pulang” cowok itu menahan lengan gadis yang bernama suci itu . suci menghela napas lagi , “terserah” kembali ucapan singkat yang dilontarkannya .
-didepan rumah-
Terlihat seorang wanita setengah baya sedang duduk diteras rumah sambil sesekali menyeruput segelas teh panas , ia melihat sebuah motor vixion hitam mendekat kearah rumah . wanita itu tersenyum , beranjak dari duduknya ,”uci udah pulang ?” tanyanya pada suci . suci mengangguk pelan seraya menyalami ibundanya .
wanita paruh baya itu lalu menoleh pada sesosok cowok yang berdiri dibelakang suci , “eh , nak syawal . makasih ya udah nganterin suci . masuk dulu nak”ajak bunda . syawal hanya tersenyum lalu menoleh pada suci , dilihatnya suci yang sepertinya tak menginginkan kehadirannya disini . “sama-sama tante . gak usah tante , maksih . lagian udah malam . yaudah , saya pamit dulu tante . ci , aku pulang dulu .assalamualaikum” syawal berpamitan .”waalaikumsalam “jawab bunda suci . “hati-hati nak”lanjut beliau .
syawal kembali tersenyum namun sepertinya senyumnya memancarkan kekecewaan . ya , ia kecewa dengan perlakuan kekasihnya terhadapnya , menurutnya lebih baik ia mengalah daripada harus kehilangan kekasihnya .
-dkamar-
“maafin aku . aku gak bermaksud kayak gitu . aku ..aku gak bisa .. hiks hiks” terdengar suara seorang gadis sedang menangis .
‘TOKTOKTOK’
“uci , ini bunda . bunda boleh masuk ?”ucap bunda lembut . “masuk aja bun “ jawab suci seraya menghapus airmatanya . bunda masuk dan duduk disampingnya .
“uci udah bilang sama syawal kalau minggu depan kita bakal ke Singapore buat pengobatan uci ?” Tanya bunda . suci menggeleng , “belum bun . uci gak berani” jawab suci pelan .
Bunda menggeser duduknya , memposisikan duduknya lebih dekat dengan anaknya itu . “uci gak bisa nutupin ini selamanya . lambat laun syawal pasti tau . eh , udah malam . uci tidur gih .besok sekolah .oke”ujar bunda seraya beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar .
6 hari kemudian
Syawal berkeliling sekolah mencari suci , sempat keletihan juga ia karena mengelilingi sekolah yang lumayan besar namun demi suci , demi menjelaskan pada suci tentang masalah yang menurutnya hanya kesalahpahaman kecil . enam hari telah berlalu , namun dirinya tak pernah bertegur sapa dengan kekasihnya . tak lama , ia menemukan sosok kekasihnya sedang duduk ditaman sekolah . dihampirinya kekasih yang sangat dicintainya itu .
“uci” ucapnya pelan . suci menoleh lalu kembali memandang lurus kedepan .
Selama beberapa menit mereka diam . “aku mau ngomong” ucap suci dan syawal bersamaan .
“kamu aja dulu” ujar suci , syawal menggeleng , “kamu aja dulu” suci menggeleng , “kamu aja “ syawal menghela napas , yasudahlah lebih baik dia yang mengalah daripada terjadi yang lebih buruk ,pikirnya .
“oke aku dulu .”ujar syawal . kembali ia menarik napas panjang .” jadi ,em selama beberapa hari terakhir kita gak ada kontak kontakan , setiap kamu ngeliat aku kamu pasti langsung buang muka. apa gara-gara masalah itu ? kan aku udah bilang , dia itu sodara aku . “ syawal menjelaskan secara panjang lebar .
Suci menengadahkan kepalanya , sekarang gantian ia yang menghela napas panjang . “bukan . kamu gak salah . kalo masalah itu aku gak mikirin lagi, aku percaya sama kamu . ‘untuk apa cinta itu’ kalo aku gak percaya sama kamu kaan ? “suci menjawab pertanyaan yang dilontarkan syawal dengan pelan tapi pasti . syawal hanya mengangguk ,ia tak mau berkomentar lebih banyak ,takut akan malah menambah masalahnya, “syukur deh . sekarang giliran kamu . kamu mau ngomong apa sama aku ?”Tanya syawal .
Suci terlihat bingung , terpancar jelas dari raut wajahnya . ia bimbang , apa ini saatnya untuk memberitaukan semuanya ? “kamu kenapa ? kok kayak bingung gitu sih ?”pertanyaan syawal makin membuatnya gelisah .
Teeeet
Bel masuk berbunyi , membuat suci terbebas dari apa yang membuatnya tersiksa sekarang ini ,menceritakan yang sebenarnya . “udah bel , pas pulang aja “ujar suci.”aku masuk dulu” lanjutnya cepat sebelum syawal memaksanya untuk bercerita .
Selama jam pelajaran pikiran suci tak tertuju pada pelajaran yang sedang dijelaskan gurunya . pikirannya sibuk mengatur kata-kata , kalimat yang akan dikatakanyya pada kekasihnya sepulang sekolah nanti .
Teeeet
Bel pulang berbunyi , dengan cepat syawal memasukkan buku kedalam tasnya , berlari menuju kelas kekasihnya . hatinya gelisah ,perasaan tak enak menghampirinya . dilihatnya suci telah menunggu didepan kelas ,”ngomongnya ditempat lain aja ya “ajak suci . syawal mengangguk lalu menuntun suci menuju motornya , mereka pergi kesuatu tempat .
Suci turun dari motor dan berjalan menuju ayunan yang terletak dibawah pohon rindang . syawal mengikuti langkah pujaan hatinya . beberapa menit mereka hanya diam , menikmati angin sepoi yang bertiup pelan , namun didalam hati , mereka sibuk mengatur pikiran masing-masing .
“jadi ..”ucap syawal memecah keheningan yang sedari tadi tercipta .
“aku besok kesingapore” ucap suci pelan namun terdengar jelas ditelinga syawal .
JEDERR !
Bagai tersambar petir syawal mendengar itu , ia tak mengira hal ini terjadi . tapi , dihadapan suci ia berusaha tenang .
“mau ngapain ? lama disana ?”tanyanya , syawal berusaha menstabilkan emosinya .
“aku .. aku mau operasi . kanker otak .selesai operasi aku pulang .” suci meneteskan airmatanya .
Untuk kedua kalinya syawal merasa sakit , namun kali ini lebih sakit . selama ini pujaan hatinya menutupi semua ini darinya . kenapa ? kenapa harus kekasihnya , batin syawal . hatinya memberontak .
Mereka kembali diam ,pikiran mereka kini lebih kalut .suci menghapus airmatanya , “aku mau pulang” tanpa banyak bicara syawal beranjak dari duduknya ,berjalan menuju motornya .
keesokan harinya
“kamu hati-hati disana “ ucap syawal lembut ,ia kini lebih bisa berlapang dada . “jangan lupa hubungi aku , kasih kabar .oke “ lanjutnya .suci mengangguk seraya tersenyum , “aku berangkat dulu” .
”tunggu ! aku tau ‘untuk apa cinta itu?’ , untuk apa cinta aku buat kamu ,semua itu untuk diperjuangkan . aku akan selalu nungguin kamu disini “ujar syawaltiba-tiba.tak ada nada keraguan didalamnya . “ya , cinta itu untuk diperjuangkan!” sahut suci seraya tersenyum lalu berjalan menuju pesawat yang telah menunggunya .
3bulankemudian
“yeah ,aku tau kamu pasti sembuh ci“ ucap syawal dengan senyum mengembang . senang sekali dirinya . ia bisa melihat pujaan hatinya lagi , dengan kondisi yang lebih baik tentunya .
“iyaaa , Alhamdulillah “jawab suci .
“jalan-jalan yuk , aku udah kangen banget nih jalan-jalan sama kamu ..”ajak syawal . ia rindu dengan semua ini .
“ayook” sahut suci dengan semangat .
Mereka pergi ke tempat favorit mereka ,suatu tempat yang sangat indah bagi mereka .
THE END
“aku capek” ujar gadis itu singkat lalu pergi meninggalkan cowok itu . “suci ! tunggu ! aku anterin pulang” cowok itu menahan lengan gadis yang bernama suci itu . suci menghela napas lagi , “terserah” kembali ucapan singkat yang dilontarkannya .
-didepan rumah-
Terlihat seorang wanita setengah baya sedang duduk diteras rumah sambil sesekali menyeruput segelas teh panas , ia melihat sebuah motor vixion hitam mendekat kearah rumah . wanita itu tersenyum , beranjak dari duduknya ,”uci udah pulang ?” tanyanya pada suci . suci mengangguk pelan seraya menyalami ibundanya .
wanita paruh baya itu lalu menoleh pada sesosok cowok yang berdiri dibelakang suci , “eh , nak syawal . makasih ya udah nganterin suci . masuk dulu nak”ajak bunda . syawal hanya tersenyum lalu menoleh pada suci , dilihatnya suci yang sepertinya tak menginginkan kehadirannya disini . “sama-sama tante . gak usah tante , maksih . lagian udah malam . yaudah , saya pamit dulu tante . ci , aku pulang dulu .assalamualaikum” syawal berpamitan .”waalaikumsalam “jawab bunda suci . “hati-hati nak”lanjut beliau .
syawal kembali tersenyum namun sepertinya senyumnya memancarkan kekecewaan . ya , ia kecewa dengan perlakuan kekasihnya terhadapnya , menurutnya lebih baik ia mengalah daripada harus kehilangan kekasihnya .
-dkamar-
“maafin aku . aku gak bermaksud kayak gitu . aku ..aku gak bisa .. hiks hiks” terdengar suara seorang gadis sedang menangis .
‘TOKTOKTOK’
“uci , ini bunda . bunda boleh masuk ?”ucap bunda lembut . “masuk aja bun “ jawab suci seraya menghapus airmatanya . bunda masuk dan duduk disampingnya .
“uci udah bilang sama syawal kalau minggu depan kita bakal ke Singapore buat pengobatan uci ?” Tanya bunda . suci menggeleng , “belum bun . uci gak berani” jawab suci pelan .
Bunda menggeser duduknya , memposisikan duduknya lebih dekat dengan anaknya itu . “uci gak bisa nutupin ini selamanya . lambat laun syawal pasti tau . eh , udah malam . uci tidur gih .besok sekolah .oke”ujar bunda seraya beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar .
6 hari kemudian
Syawal berkeliling sekolah mencari suci , sempat keletihan juga ia karena mengelilingi sekolah yang lumayan besar namun demi suci , demi menjelaskan pada suci tentang masalah yang menurutnya hanya kesalahpahaman kecil . enam hari telah berlalu , namun dirinya tak pernah bertegur sapa dengan kekasihnya . tak lama , ia menemukan sosok kekasihnya sedang duduk ditaman sekolah . dihampirinya kekasih yang sangat dicintainya itu .
“uci” ucapnya pelan . suci menoleh lalu kembali memandang lurus kedepan .
Selama beberapa menit mereka diam . “aku mau ngomong” ucap suci dan syawal bersamaan .
“kamu aja dulu” ujar suci , syawal menggeleng , “kamu aja dulu” suci menggeleng , “kamu aja “ syawal menghela napas , yasudahlah lebih baik dia yang mengalah daripada terjadi yang lebih buruk ,pikirnya .
“oke aku dulu .”ujar syawal . kembali ia menarik napas panjang .” jadi ,em selama beberapa hari terakhir kita gak ada kontak kontakan , setiap kamu ngeliat aku kamu pasti langsung buang muka. apa gara-gara masalah itu ? kan aku udah bilang , dia itu sodara aku . “ syawal menjelaskan secara panjang lebar .
Suci menengadahkan kepalanya , sekarang gantian ia yang menghela napas panjang . “bukan . kamu gak salah . kalo masalah itu aku gak mikirin lagi, aku percaya sama kamu . ‘untuk apa cinta itu’ kalo aku gak percaya sama kamu kaan ? “suci menjawab pertanyaan yang dilontarkan syawal dengan pelan tapi pasti . syawal hanya mengangguk ,ia tak mau berkomentar lebih banyak ,takut akan malah menambah masalahnya, “syukur deh . sekarang giliran kamu . kamu mau ngomong apa sama aku ?”Tanya syawal .
Suci terlihat bingung , terpancar jelas dari raut wajahnya . ia bimbang , apa ini saatnya untuk memberitaukan semuanya ? “kamu kenapa ? kok kayak bingung gitu sih ?”pertanyaan syawal makin membuatnya gelisah .
Teeeet
Bel masuk berbunyi , membuat suci terbebas dari apa yang membuatnya tersiksa sekarang ini ,menceritakan yang sebenarnya . “udah bel , pas pulang aja “ujar suci.”aku masuk dulu” lanjutnya cepat sebelum syawal memaksanya untuk bercerita .
Selama jam pelajaran pikiran suci tak tertuju pada pelajaran yang sedang dijelaskan gurunya . pikirannya sibuk mengatur kata-kata , kalimat yang akan dikatakanyya pada kekasihnya sepulang sekolah nanti .
Teeeet
Bel pulang berbunyi , dengan cepat syawal memasukkan buku kedalam tasnya , berlari menuju kelas kekasihnya . hatinya gelisah ,perasaan tak enak menghampirinya . dilihatnya suci telah menunggu didepan kelas ,”ngomongnya ditempat lain aja ya “ajak suci . syawal mengangguk lalu menuntun suci menuju motornya , mereka pergi kesuatu tempat .
Suci turun dari motor dan berjalan menuju ayunan yang terletak dibawah pohon rindang . syawal mengikuti langkah pujaan hatinya . beberapa menit mereka hanya diam , menikmati angin sepoi yang bertiup pelan , namun didalam hati , mereka sibuk mengatur pikiran masing-masing .
“jadi ..”ucap syawal memecah keheningan yang sedari tadi tercipta .
“aku besok kesingapore” ucap suci pelan namun terdengar jelas ditelinga syawal .
JEDERR !
Bagai tersambar petir syawal mendengar itu , ia tak mengira hal ini terjadi . tapi , dihadapan suci ia berusaha tenang .
“mau ngapain ? lama disana ?”tanyanya , syawal berusaha menstabilkan emosinya .
“aku .. aku mau operasi . kanker otak .selesai operasi aku pulang .” suci meneteskan airmatanya .
Untuk kedua kalinya syawal merasa sakit , namun kali ini lebih sakit . selama ini pujaan hatinya menutupi semua ini darinya . kenapa ? kenapa harus kekasihnya , batin syawal . hatinya memberontak .
Mereka kembali diam ,pikiran mereka kini lebih kalut .suci menghapus airmatanya , “aku mau pulang” tanpa banyak bicara syawal beranjak dari duduknya ,berjalan menuju motornya .
keesokan harinya
“kamu hati-hati disana “ ucap syawal lembut ,ia kini lebih bisa berlapang dada . “jangan lupa hubungi aku , kasih kabar .oke “ lanjutnya .suci mengangguk seraya tersenyum , “aku berangkat dulu” .
”tunggu ! aku tau ‘untuk apa cinta itu?’ , untuk apa cinta aku buat kamu ,semua itu untuk diperjuangkan . aku akan selalu nungguin kamu disini “ujar syawaltiba-tiba.tak ada nada keraguan didalamnya . “ya , cinta itu untuk diperjuangkan!” sahut suci seraya tersenyum lalu berjalan menuju pesawat yang telah menunggunya .
3bulankemudian
“yeah ,aku tau kamu pasti sembuh ci“ ucap syawal dengan senyum mengembang . senang sekali dirinya . ia bisa melihat pujaan hatinya lagi , dengan kondisi yang lebih baik tentunya .
“iyaaa , Alhamdulillah “jawab suci .
“jalan-jalan yuk , aku udah kangen banget nih jalan-jalan sama kamu ..”ajak syawal . ia rindu dengan semua ini .
“ayook” sahut suci dengan semangat .
Mereka pergi ke tempat favorit mereka ,suatu tempat yang sangat indah bagi mereka .
THE END
Senin, 24 Januari 2011
EGC II
Gimana part satu ? haha . seru gak ?
Ini dia part dua nya .
^hope you’ll like this^
LETS READ !
HAPPY READING READERS !
________________________ EVERYTHING GONNA CHANGES PART II____________________
“lo mau gak jadi pacar gue ?”ucap enda to the poin tanpa ada keraguan dalam nada bicaranya .
Tati tertegun . tak disangkanya enda akan berkata seperti itu . tapi ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia juga mencintai enda . namun ia membuang jauh-jauh perasaannya karena sahabatnya , fani juga menyukai enda . tapi kenapa ? kenapa disaat ia memutuskan untuk menjauh , enda malah mendekatinya bahkan menyatakan cinta padanya ?
“ma maaf enda , g gue gak bisa ..”
“gak bisa nolak gue maksud lo kan ?”
“enggak . gue beneran gak bisa nerima lo .. maaf” tati beranjak dari tempat duduknya ,menjauh . dari sudut matanya tertahan sebutir airmata , ia sepertinya menangis . tidak ,bukan sepertinya , tapi ia memang menangis . enda ingin mengejar tati , namun ia urungkan niatnya .
‘gak ti . gak gini akhirnya . ada yang gak beres dengan lo , entah apa . gue bakal tetap perjuangkan cinta gue ke elo ti . demi elo ..’batin enda .
+++++
Winda kembali merenungi apa yang terjadi pada dirinya , pada kenyataan ini . namun sepertinya kehadiran luthfi membuatnya sedikit melupakan masalah itu . kini luthfi yang mengusik pikiran winda .
Drrt .. drrt ..
Getaran handphone yang terletak dimeja belajarnya membuyarkan lamunan winda . segera ia raih handphone itu , sederet nomor tak dikenal menelfonnya . keypad berbentuk telfon berwarna hijau yang akhirnya menjadi pilihan winda .
_on the phone on_
“halo “
“halo , em , hei , ini bener nomor winda ?” suara seorang cowok yang menyahut diseberang sana .
“iya , ini siapa ya ?”
“luthfi . masih inget kan ? jangan bilang lo udah amnesia ..” kembali winda tertawa karena perkataan luthfi .entah mengapa , padahal guyonan luthfi barusan lebih terkesan ‘garing’ .
“haha , ya inget dong . kenapa nih nelfon ?”
“gak .. gue kangen aja sama lo “
Diam 1detik
2detik
3detik
“haha . becanda terus nih . ada perlu apa nelfon gue ?”
“loh kok becanda . serius ..gue kangen sama lo . gak boleh ya ?”
Winda tak menyangka luthfi akan berkata seperti itu . hatinya senang ketika luthfi berkata demikian . namun segera ia buang jauh-jauh perasaan itu karena suatu hal . winda pun segera mencari alasan untuk mengakhiri pembicaraan ini .
“eh , udah dulu ya . udah malem .gue ngantuk”
Teeeet
_on the phone off_
Telfon terputus . ‘ya tuhan jangan biarkan persaan ini terlalu jauh ..’ batin winda . karena hari juga sudah malam , akhirnya winda memutuskan untuk tidur .
+++++
“winda kenapa sih ? kok telfon gue dimatiin gitu aja ..”gerutu luthfi . “gue kan beneran kangen sama dia “lanjutnya . adiknya yang berumur tak terlalu jauh dengannya terpaut sekitar satu tahun , aflahal , yang mendengar itu langsung berkomentar , “sabar kak . cewek emang susah dimengerti ..”ujarnya .
“emang nya gitu ya ?”Tanya luthfi . aflahal menangguk mantap . luthfi tak melanjutkan pertanyaannya , karena sibuk memikirkan kenapa , kenapa , dan kenapa winda memutuskan telfonnya secara tiba-tiba . dan akhirnya pun luthfi juga terlelap dalam tidurnya .
+++++
*Pagi hari di sekolah*
“winda , gue mau cerita sama lo ..” enda menghampiri winda dengan langkah lemah . masih terfikir olehnya kejadian kemarin . winda menoleh , tersenyum sebentar , “cerita aja . gue juga mau cerita sama lo ..”sahut winda .
Mereka akhirnya saling bertukar cerita . enda bercerita tentang tati , dan winda bercerita tentang luthfi . mereka saling mendengar .
+++
Tati berjalan menuju kelas dengan menunduk . tadi malam ia tak bisa tidur karena gelisah memikirkan tentang enda . tak sadar ia menabrak seseorang dihadapannya .
“tati , lo kenapa ? mata lo sembab banget . lo gak tidur ?”ujar orang itu .
“gue gak papa fani , gue emang kurang tidur . belajar buat ulangan MTK ntar ,, hhe “ tati berbohong . tak mungkin untuknya bercerita bahwa enda menyatakan cinta padanya kemarin . ia tak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin lama dengan fani hanya karena cowok .
“oh , gue kira lo kenapa-kenapa .. eh , tau gak sih tadi si enda datang kayaknya lemes banget gitu . kenapa ya ..” fani berkata panjang lebar tanpa memikirkan lebih lanjut tentang keadaan tati . DEG . tati tau kenapa enda begitu , tapi ya lagi-lagi tak mungkin ia bercerita kepada sohibnya itu . segera ia mengalihkan pembicaraan “e , eh , gue pengen pipis nih . ntar dulu ya ..” tati menjauh dari fani . fani yang heran melihat sikap tati yang aneh hanya bisa mengangkat bahu .
+++++
*seminggu kemudian ,sore hari*
Luthfi melajukan motornya pada sebuah rumah sakit . ia ingin memeriksakan dirinya yang akhir-akhir ini sering merasa sakit yang teramat dikepalanya . dan tak jarang darah mangalir dari hidung ataupun mulutnya . sebenarnya ia telah diperiksa , namun bundanya tak memberitaukan hasil pemeriksaan itu . ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ini .
Setelah sampai , ia memarkir motor nya dan memasuki rumah sakit itu . bertanya kepada suster yang berjaga dimana keberadaan dokter wira , dokter yang sempat memeriksanya waktu itu . suster itu menunjuk sebuah ruangan tempat dokter wira berada . dengan segera luthfi menuju ruangan itu .
“tok tok tok” luthfi mengetuk pintu ruangan . dari jendela terlihat dokter wira sedang membolak-balik kertas yang ada dimejanya . mungkin berkas pasien .
“masuk ..”seru dokter wira dari dalam .
“oh , adik yang saya periksa beberapa hari yang lalu kan ?” dokter wira bertanya pada luthfi . luthfi mengangguk ,lalu berkata , “em , boleh saya duduk dok ? pegel berdiri terus” dasar luthfi , orang tua saja diajak bercanda seperti itu . “oh , iya , silahkan ..” jawab dokter wira seraya tertawa kecil .
“jadi , ada keluhan apa lagi ?” Tanya dokter wira .
“gak dok . saya Cuma mau nanya , sebenarnya penyakit saya itu apa ?”
“loh ? orang tuamu tidak memberitau ?” luthfi menggeleng . dokter wira lalu menarik nafas panjang .
“ya , wajar saja sih jika orang tuamu tidak memberitau ..”
“maksud dokter apa ? sebenarnya saya sakit apa dok ?”
“adik siap mendengar ini ?”Tanya dokter wira . ia ragu memberitaukan ini pada luthfi . takutnya luthfi akan frustasi mendengar ini . luthfi menarik nafas , berfikir sejenak apakah ia siap mendengar ini atau tidak . tapi bukan luthfi kalau ia tidak siap mendengar suatu kenyataan pahit .
“saya siap dok !”ujar luthfi mantap .
“baiklah …”
+++++
Winda duduk melamun ditaman . ia bergumam tak jelas .
“hidup gue gak lama lagi . kenapa sih gue harus mengidap penyakit sialan ini . kenapa ..” ucapnya lirih .
“lo gak boleh ngomong gitu ..” seorang cewek yang tak dikenal mendekati winda dan duduk disebelahnya . winda tercengang melihat cewek itu .
“siapa lo ?”
“ahh ya , kita belum kenalan . gue orang baru disini . nama gue ..”
________________________________END OF PART II________________________________
Finish ! lanjut ke part III .. :D
*tati-enda-fani ?
*luthfi sama winda gimana nih ?
*luthfi sakit apa ?
*siapa tuh cewek ?
Ohayooo , tebak tebak !
Dadahh , see yaa ..
_read , like , and comment ! you must do it !_
Wassalam ,
.sucisusilawati.
Ini dia part dua nya .
^hope you’ll like this^
LETS READ !
HAPPY READING READERS !
________________________ EVERYTHING GONNA CHANGES PART II____________________
“lo mau gak jadi pacar gue ?”ucap enda to the poin tanpa ada keraguan dalam nada bicaranya .
Tati tertegun . tak disangkanya enda akan berkata seperti itu . tapi ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia juga mencintai enda . namun ia membuang jauh-jauh perasaannya karena sahabatnya , fani juga menyukai enda . tapi kenapa ? kenapa disaat ia memutuskan untuk menjauh , enda malah mendekatinya bahkan menyatakan cinta padanya ?
“ma maaf enda , g gue gak bisa ..”
“gak bisa nolak gue maksud lo kan ?”
“enggak . gue beneran gak bisa nerima lo .. maaf” tati beranjak dari tempat duduknya ,menjauh . dari sudut matanya tertahan sebutir airmata , ia sepertinya menangis . tidak ,bukan sepertinya , tapi ia memang menangis . enda ingin mengejar tati , namun ia urungkan niatnya .
‘gak ti . gak gini akhirnya . ada yang gak beres dengan lo , entah apa . gue bakal tetap perjuangkan cinta gue ke elo ti . demi elo ..’batin enda .
+++++
Winda kembali merenungi apa yang terjadi pada dirinya , pada kenyataan ini . namun sepertinya kehadiran luthfi membuatnya sedikit melupakan masalah itu . kini luthfi yang mengusik pikiran winda .
Drrt .. drrt ..
Getaran handphone yang terletak dimeja belajarnya membuyarkan lamunan winda . segera ia raih handphone itu , sederet nomor tak dikenal menelfonnya . keypad berbentuk telfon berwarna hijau yang akhirnya menjadi pilihan winda .
_on the phone on_
“halo “
“halo , em , hei , ini bener nomor winda ?” suara seorang cowok yang menyahut diseberang sana .
“iya , ini siapa ya ?”
“luthfi . masih inget kan ? jangan bilang lo udah amnesia ..” kembali winda tertawa karena perkataan luthfi .entah mengapa , padahal guyonan luthfi barusan lebih terkesan ‘garing’ .
“haha , ya inget dong . kenapa nih nelfon ?”
“gak .. gue kangen aja sama lo “
Diam 1detik
2detik
3detik
“haha . becanda terus nih . ada perlu apa nelfon gue ?”
“loh kok becanda . serius ..gue kangen sama lo . gak boleh ya ?”
Winda tak menyangka luthfi akan berkata seperti itu . hatinya senang ketika luthfi berkata demikian . namun segera ia buang jauh-jauh perasaan itu karena suatu hal . winda pun segera mencari alasan untuk mengakhiri pembicaraan ini .
“eh , udah dulu ya . udah malem .gue ngantuk”
Teeeet
_on the phone off_
Telfon terputus . ‘ya tuhan jangan biarkan persaan ini terlalu jauh ..’ batin winda . karena hari juga sudah malam , akhirnya winda memutuskan untuk tidur .
+++++
“winda kenapa sih ? kok telfon gue dimatiin gitu aja ..”gerutu luthfi . “gue kan beneran kangen sama dia “lanjutnya . adiknya yang berumur tak terlalu jauh dengannya terpaut sekitar satu tahun , aflahal , yang mendengar itu langsung berkomentar , “sabar kak . cewek emang susah dimengerti ..”ujarnya .
“emang nya gitu ya ?”Tanya luthfi . aflahal menangguk mantap . luthfi tak melanjutkan pertanyaannya , karena sibuk memikirkan kenapa , kenapa , dan kenapa winda memutuskan telfonnya secara tiba-tiba . dan akhirnya pun luthfi juga terlelap dalam tidurnya .
+++++
*Pagi hari di sekolah*
“winda , gue mau cerita sama lo ..” enda menghampiri winda dengan langkah lemah . masih terfikir olehnya kejadian kemarin . winda menoleh , tersenyum sebentar , “cerita aja . gue juga mau cerita sama lo ..”sahut winda .
Mereka akhirnya saling bertukar cerita . enda bercerita tentang tati , dan winda bercerita tentang luthfi . mereka saling mendengar .
+++
Tati berjalan menuju kelas dengan menunduk . tadi malam ia tak bisa tidur karena gelisah memikirkan tentang enda . tak sadar ia menabrak seseorang dihadapannya .
“tati , lo kenapa ? mata lo sembab banget . lo gak tidur ?”ujar orang itu .
“gue gak papa fani , gue emang kurang tidur . belajar buat ulangan MTK ntar ,, hhe “ tati berbohong . tak mungkin untuknya bercerita bahwa enda menyatakan cinta padanya kemarin . ia tak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin lama dengan fani hanya karena cowok .
“oh , gue kira lo kenapa-kenapa .. eh , tau gak sih tadi si enda datang kayaknya lemes banget gitu . kenapa ya ..” fani berkata panjang lebar tanpa memikirkan lebih lanjut tentang keadaan tati . DEG . tati tau kenapa enda begitu , tapi ya lagi-lagi tak mungkin ia bercerita kepada sohibnya itu . segera ia mengalihkan pembicaraan “e , eh , gue pengen pipis nih . ntar dulu ya ..” tati menjauh dari fani . fani yang heran melihat sikap tati yang aneh hanya bisa mengangkat bahu .
+++++
*seminggu kemudian ,sore hari*
Luthfi melajukan motornya pada sebuah rumah sakit . ia ingin memeriksakan dirinya yang akhir-akhir ini sering merasa sakit yang teramat dikepalanya . dan tak jarang darah mangalir dari hidung ataupun mulutnya . sebenarnya ia telah diperiksa , namun bundanya tak memberitaukan hasil pemeriksaan itu . ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ini .
Setelah sampai , ia memarkir motor nya dan memasuki rumah sakit itu . bertanya kepada suster yang berjaga dimana keberadaan dokter wira , dokter yang sempat memeriksanya waktu itu . suster itu menunjuk sebuah ruangan tempat dokter wira berada . dengan segera luthfi menuju ruangan itu .
“tok tok tok” luthfi mengetuk pintu ruangan . dari jendela terlihat dokter wira sedang membolak-balik kertas yang ada dimejanya . mungkin berkas pasien .
“masuk ..”seru dokter wira dari dalam .
“oh , adik yang saya periksa beberapa hari yang lalu kan ?” dokter wira bertanya pada luthfi . luthfi mengangguk ,lalu berkata , “em , boleh saya duduk dok ? pegel berdiri terus” dasar luthfi , orang tua saja diajak bercanda seperti itu . “oh , iya , silahkan ..” jawab dokter wira seraya tertawa kecil .
“jadi , ada keluhan apa lagi ?” Tanya dokter wira .
“gak dok . saya Cuma mau nanya , sebenarnya penyakit saya itu apa ?”
“loh ? orang tuamu tidak memberitau ?” luthfi menggeleng . dokter wira lalu menarik nafas panjang .
“ya , wajar saja sih jika orang tuamu tidak memberitau ..”
“maksud dokter apa ? sebenarnya saya sakit apa dok ?”
“adik siap mendengar ini ?”Tanya dokter wira . ia ragu memberitaukan ini pada luthfi . takutnya luthfi akan frustasi mendengar ini . luthfi menarik nafas , berfikir sejenak apakah ia siap mendengar ini atau tidak . tapi bukan luthfi kalau ia tidak siap mendengar suatu kenyataan pahit .
“saya siap dok !”ujar luthfi mantap .
“baiklah …”
+++++
Winda duduk melamun ditaman . ia bergumam tak jelas .
“hidup gue gak lama lagi . kenapa sih gue harus mengidap penyakit sialan ini . kenapa ..” ucapnya lirih .
“lo gak boleh ngomong gitu ..” seorang cewek yang tak dikenal mendekati winda dan duduk disebelahnya . winda tercengang melihat cewek itu .
“siapa lo ?”
“ahh ya , kita belum kenalan . gue orang baru disini . nama gue ..”
________________________________END OF PART II________________________________
Finish ! lanjut ke part III .. :D
*tati-enda-fani ?
*luthfi sama winda gimana nih ?
*luthfi sakit apa ?
*siapa tuh cewek ?
Ohayooo , tebak tebak !
Dadahh , see yaa ..
_read , like , and comment ! you must do it !_
Wassalam ,
.sucisusilawati.
everything gonna changes (EGC)
Hei kawan !
Aku buat cerpen nih . tapi panjang , jadi ada beberapa bagian gitu , bisa jadi mini cerbung .
jangan banyak bicara ,
LETS READ !
HAPPY READING READERS !!
________________________ EVERTHING’S GONNA CHANGES PART I_______________________
Kadang hidup itu terasa tak adil untuk kita . tapi taukah kalian bahwa setiap insan yang diciptakan oleh sang pencipta dibumi ini memiliki jalan tersendiri untuk mencapai suatu tujuan . tuhan telah mengatur semuanya , tak ada yang tau . salah satu tujuan adalah , kita bisa mencintai dan orang yang kita cintai mencintai kita . tulus . namun jika salah jalan penyesalan pasti akan menanti diakhir cerita . bukankah begitu ?
+++++
“kusut amat sih muka lo ..”ucap enda . enda memperhatikan tiap lekuk wajah gadis yang ada dihadapannya kini . tersirat kesedihan didalam diri gadis itu . “ahh , sok tau lo !” gadis itu berkata sambil meninju pelan bahu enda . “haha , winda ,winda . kita itu udah sahabatan dari bayi . gue bisa bedain tiap ekspresi lo .jangan boongin gue deh . emang ada apa ? cerita dong ..”jelas enda . ‘gue gak mungkin cerita tentang ini ke lo enda.. gak mungkin ..’batin winda . terlihat setetes airmata mengalir di pipi nya . enda yang melihat itu langsung gelagapan , segera ia meminta tisu pada temannya . “ehh , jangan nangis dong . sory deh . gue gak bakalan maksa lo cerita ..” sepertinya enda merasa bersalah . “hah ? siapa yang nangis coba .. sok tau lagi lo “ winda mencoba membela diri ,menghapus tetes airmata tadi dengan tangannya , menutupi kesedihan hatinya . hatinya yang teriris menerima kenyataan pedih ini . enda tau winda berbohong . namun enda tak menyahut lagi karena takut malah bikin winda jadi makin sedih .
Teeeeeeeeeeeet …
Bel panjang berbunyi . semua murid berlarian menuju kelasnya masing-masing ,duduk rapi dibangku dan siap menerima pelajaran hari ini . disinilah enda dan winda bersekolah , SMAN 1 PONTIANAK . sebuah sekolah elit yang hanya anak tertentu bisa memasuki sekolah ini .
Langkah kaki terdengar menuju pintu kelas dan sesaat kemudian datang seorang guru bersama seorang siwa yang sepertinya akan jadi murid baru disekolah ini . guru itu menyuruh siswa memperkenalkan diri . semua anak memperhatikan siswa baru itu , terutama kaum hawa yang memandangi siswa itu dengan tatapan kagum . terkecuali winda , ia menunduk ,entah apa yang ada dipikirannya . yang jelas siswa baru ini tak mampu mencuri perhatian winda seperti ia mencuri perhatian seluruh siswi dikelas ini .
“nama gue luthfi ,gue pindahan dari Jakarta . dan salam kenal untuk kalian ..” luthi tersenyum . “sudah ? kalo sudah kamu boleh duduk disana “ ujar buguru seraya menunjuk bangku kosong yang posisinya tepat bersebrangan dengan bangku winda . “makasih bu ..”luthfi kembali tersenyum lalu ia berjalan menuju bangkunya . dengan tatapan heran luthfi memandangi winda . luthfi memberanikan diri untuk berkenalan dengan winda . namun ia urungkan niatnya karena bu guru sudah akan memulai pelajaran .
Luthfi terus memperhatikan winda . ada getaran kecil dihatinya saat ia memandangi wajah gadis itu .
+++
Tiga hari berlalu . namun luthfi belum sekalipun menyapa winda ataupun sebaliknya . padahal , luthfi termasuk orang yang cepat dalam bersosialisasi . ia bahkan telah membentuk sebuah band dengan personil teman-teman nya sendiri . sangat cepat bukan ? namun kenapa untuk menyapa seorang winda belum juga dilakukannya sampai saat ini ?
+++
“hei ti .. !”seru enda , ia kini sedang berhadapan dengan pujaan hatinya . sekarang ,saat ini enda akan mengutarakan perasaanya pada tati . enam bulan sudah ia memendam perasaan ini .
“hei ! ngapain kesini ? winda mana ? biasanya kan kalian selalu beduaan ..” nada bicara tati seakan menyindir enda . namun enda tak perduli . ia akan mengutarakan perasaanya sekarang . “e e , ti gue mau ngomong sama lo “ enda mengalihkan pembicaraan . tati hanya mengerutkan kening ,tapi tak berkomentar mengapa enda mengalihkan pembicaraan ini .
“ngomong aja kali . sini duduk , jangan sambil berdiri .”suruh tati . enda pun duduk tepat dihadapan tati . setelah duduk , enda hanya berdiam diri karena baru kali ini ia duduk berhadapan dengan tati sedekat ini . lekat-lekat enda menatap tati tepat dimatanya . jantung tati berdegup lebih kencang karena ditatap enda seperti itu . tatapan tajam namun hangat . “eh , eh jadi mau ngomong apa ?” ujar tati . tak menjawab , enda lalu menggenggam tangan tati . mengelusnya pelan . sebenarnya jantung enda lebih berdegup kencang karena berhadapan dengan pujaan hatinya ,tapi karena ia tak sudah berlatih selama seminggu untuk hari ini jadi ia tak ingin merusaknya dengan bersikap salah tingkah .
“lo mau gak jadi pacar gue ?”ucap enda to the poin tanpa ada keraguan dalam nada bicaranya .
+++
Disudut ruangan terlihat sosok seorang gadis tengah duduk sendiri . gadis itu memandang keluar jendela . mengingat sebuah kenyataan yang membuat dirinya menyesal karena telah dilahirkan . gadis itu .. menangis .
Seorang cowok yang kebetulan melewati meja gadis itupun tercengang melihat gadis yang membuat hatinya bergetar kini menangis lagi . memang ia belum pernah menyapa , tapi ia tak tega melihat bidadari hatinya menangis seperti itu . tanpa basa basi cowok itu duduk disamping gadis itu .
“lo kenapa win ?” sapa luthfi pada winda . winda menoleh dan dengan gerakan tiba-tiba ia memeluk luthfi . winda menangis dibahu luthfi .
“yaudah , tenangin diri lo dulu ..”ujar luthfi seraya mengelus rambut winda . tak lama winda melepas pelukannya .
“eh , maaf ya ..”ucap winda .
“gak papa kok ..”luthfi tersenyum . DEG . jantung winda berdegup melihat senyuman luthfi yang menurutnya sangat manis . “lo kenapa ?” lanjut luthfi .
“em , gak papa “sahut winda singkat . ia mencoba tersenyum . “betewe , lo ngapain disini ?”
“gue ? gue mau manggung disini . ini kan café paman gue , jadi gue bebas milih waktu kapan gue pengen manggung”
“oh ya lo anak band? lo sebagai apa ?”
“iya , gue vokalis . cocok kan gue ? gue ganteng gitu ..”
Winda tertawa pelan mendengar kenarsisan luthfi . ‘gue seneng ngeliat lo ketawa gitu . lebih cantik ‘batin luthfi .
“fi , bentar lagi kita tampil ..”ucap damas . teman seband luthfi . “iya , tunggu bentar ..”sahut luthfi .
“eh ,gue mau tampil nih . lo jangan pulang dulu ya ..”luthfi beranjak dari duduknya merapikan kaos yang ia padukan dengan jacket hitam miliknya . sebelum pergi , ia tersenyum pada winda .Winda memandangi luthfi yang menjauh pergi , ada perasaan tak rela membiarkan luthfi pergi .
Luthfi kini menaiki panggung , duduk dikursinya dan meraih mic .
“selamat malam semua , dikesempatan kali ini kami akan menbawakan sebuah lagu , dan khusus untuk gadis cantik yang duduk disudut sana , ..” semua pengunjung menoleh kearah winda . winda yang tak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh luthfi hanya bisa tersenyum malu . rona merah terlihat dipipinya .
Nada mengalun lembut . sebuah lagu bernuansa accoustik dinyanyikan oleh luthfi dan diiringi permainan music yang indah dari temannya .
when I see your smile tears roll down myface I cant replice ..
and now that I’m strong I have figured out
how this world turns cold and it breaks through mysoul
and I know I’ll find deep inside me
I can be the one
‘gue , gue pengen milikin lo win . gue pengen ngejagain lo , ngehapus airmata lo , ngebiarin lo nangis dipundak gue . gue , gue yakin dengan perasaan gue ke elo walau gue belum lama ngenal lo .gue bakal ngebuktiin itu semua win ...’batin luthfi .
I will never let you fall
I stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
‘lo baik luthfi . tapi kenapa disaat seperti ini gue baru ketemu lo ? kenapa gak dari dulu . ?’batin winda memberontak .
It’s okay , it’s okay , it’s okay ..
Seasons are changing and waves are crashing
And stars all falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I’ll be the one
I will never let you fall
I stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
Cuz youre my , youre my , my , my true love my hole heart
Please don’t throw that away
Cuz I’m here for you
Please don’t walk away and please tell me you’ll stay woooh , stay wooh ..
Use me as you will
Pull my strings just for a thrill
And I know I’ll be okay
Though my skies are turning gray
I will never let you fall
I stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
Tepuk tangan yang meriah mewarnai akhir penampilan heaven band-band luthfi- . luthfi turun dari panggung dan segera menghampiri winda . menghampiri bidadari hatinya .
“keren kan gue !” seru luthfi . winda kembali tertawa mendengar itu .
“eh , lo pulang sama siapa ? gue anterin ya ?”tawar luthfi pada winda . winda mengangguk .
Sore itu , sore yang indah untuk mereka berdua ..
________________________END OF PART I_______________________
Yoah . part 1 selesai .
-gimana tati sama enda ? enda diterima gak ?
-luthfi sama winda udah akrab nih ..
Okesip . tunggu cerita selanjutnya ya ..
Keep coment n like ..
Wassalam,
.sucisusilawati.
Aku buat cerpen nih . tapi panjang , jadi ada beberapa bagian gitu , bisa jadi mini cerbung .
jangan banyak bicara ,
LETS READ !
HAPPY READING READERS !!
________________________ EVERTHING’S GONNA CHANGES PART I_______________________
Kadang hidup itu terasa tak adil untuk kita . tapi taukah kalian bahwa setiap insan yang diciptakan oleh sang pencipta dibumi ini memiliki jalan tersendiri untuk mencapai suatu tujuan . tuhan telah mengatur semuanya , tak ada yang tau . salah satu tujuan adalah , kita bisa mencintai dan orang yang kita cintai mencintai kita . tulus . namun jika salah jalan penyesalan pasti akan menanti diakhir cerita . bukankah begitu ?
+++++
“kusut amat sih muka lo ..”ucap enda . enda memperhatikan tiap lekuk wajah gadis yang ada dihadapannya kini . tersirat kesedihan didalam diri gadis itu . “ahh , sok tau lo !” gadis itu berkata sambil meninju pelan bahu enda . “haha , winda ,winda . kita itu udah sahabatan dari bayi . gue bisa bedain tiap ekspresi lo .jangan boongin gue deh . emang ada apa ? cerita dong ..”jelas enda . ‘gue gak mungkin cerita tentang ini ke lo enda.. gak mungkin ..’batin winda . terlihat setetes airmata mengalir di pipi nya . enda yang melihat itu langsung gelagapan , segera ia meminta tisu pada temannya . “ehh , jangan nangis dong . sory deh . gue gak bakalan maksa lo cerita ..” sepertinya enda merasa bersalah . “hah ? siapa yang nangis coba .. sok tau lagi lo “ winda mencoba membela diri ,menghapus tetes airmata tadi dengan tangannya , menutupi kesedihan hatinya . hatinya yang teriris menerima kenyataan pedih ini . enda tau winda berbohong . namun enda tak menyahut lagi karena takut malah bikin winda jadi makin sedih .
Teeeeeeeeeeeet …
Bel panjang berbunyi . semua murid berlarian menuju kelasnya masing-masing ,duduk rapi dibangku dan siap menerima pelajaran hari ini . disinilah enda dan winda bersekolah , SMAN 1 PONTIANAK . sebuah sekolah elit yang hanya anak tertentu bisa memasuki sekolah ini .
Langkah kaki terdengar menuju pintu kelas dan sesaat kemudian datang seorang guru bersama seorang siwa yang sepertinya akan jadi murid baru disekolah ini . guru itu menyuruh siswa memperkenalkan diri . semua anak memperhatikan siswa baru itu , terutama kaum hawa yang memandangi siswa itu dengan tatapan kagum . terkecuali winda , ia menunduk ,entah apa yang ada dipikirannya . yang jelas siswa baru ini tak mampu mencuri perhatian winda seperti ia mencuri perhatian seluruh siswi dikelas ini .
“nama gue luthfi ,gue pindahan dari Jakarta . dan salam kenal untuk kalian ..” luthi tersenyum . “sudah ? kalo sudah kamu boleh duduk disana “ ujar buguru seraya menunjuk bangku kosong yang posisinya tepat bersebrangan dengan bangku winda . “makasih bu ..”luthfi kembali tersenyum lalu ia berjalan menuju bangkunya . dengan tatapan heran luthfi memandangi winda . luthfi memberanikan diri untuk berkenalan dengan winda . namun ia urungkan niatnya karena bu guru sudah akan memulai pelajaran .
Luthfi terus memperhatikan winda . ada getaran kecil dihatinya saat ia memandangi wajah gadis itu .
+++
Tiga hari berlalu . namun luthfi belum sekalipun menyapa winda ataupun sebaliknya . padahal , luthfi termasuk orang yang cepat dalam bersosialisasi . ia bahkan telah membentuk sebuah band dengan personil teman-teman nya sendiri . sangat cepat bukan ? namun kenapa untuk menyapa seorang winda belum juga dilakukannya sampai saat ini ?
+++
“hei ti .. !”seru enda , ia kini sedang berhadapan dengan pujaan hatinya . sekarang ,saat ini enda akan mengutarakan perasaanya pada tati . enam bulan sudah ia memendam perasaan ini .
“hei ! ngapain kesini ? winda mana ? biasanya kan kalian selalu beduaan ..” nada bicara tati seakan menyindir enda . namun enda tak perduli . ia akan mengutarakan perasaanya sekarang . “e e , ti gue mau ngomong sama lo “ enda mengalihkan pembicaraan . tati hanya mengerutkan kening ,tapi tak berkomentar mengapa enda mengalihkan pembicaraan ini .
“ngomong aja kali . sini duduk , jangan sambil berdiri .”suruh tati . enda pun duduk tepat dihadapan tati . setelah duduk , enda hanya berdiam diri karena baru kali ini ia duduk berhadapan dengan tati sedekat ini . lekat-lekat enda menatap tati tepat dimatanya . jantung tati berdegup lebih kencang karena ditatap enda seperti itu . tatapan tajam namun hangat . “eh , eh jadi mau ngomong apa ?” ujar tati . tak menjawab , enda lalu menggenggam tangan tati . mengelusnya pelan . sebenarnya jantung enda lebih berdegup kencang karena berhadapan dengan pujaan hatinya ,tapi karena ia tak sudah berlatih selama seminggu untuk hari ini jadi ia tak ingin merusaknya dengan bersikap salah tingkah .
“lo mau gak jadi pacar gue ?”ucap enda to the poin tanpa ada keraguan dalam nada bicaranya .
+++
Disudut ruangan terlihat sosok seorang gadis tengah duduk sendiri . gadis itu memandang keluar jendela . mengingat sebuah kenyataan yang membuat dirinya menyesal karena telah dilahirkan . gadis itu .. menangis .
Seorang cowok yang kebetulan melewati meja gadis itupun tercengang melihat gadis yang membuat hatinya bergetar kini menangis lagi . memang ia belum pernah menyapa , tapi ia tak tega melihat bidadari hatinya menangis seperti itu . tanpa basa basi cowok itu duduk disamping gadis itu .
“lo kenapa win ?” sapa luthfi pada winda . winda menoleh dan dengan gerakan tiba-tiba ia memeluk luthfi . winda menangis dibahu luthfi .
“yaudah , tenangin diri lo dulu ..”ujar luthfi seraya mengelus rambut winda . tak lama winda melepas pelukannya .
“eh , maaf ya ..”ucap winda .
“gak papa kok ..”luthfi tersenyum . DEG . jantung winda berdegup melihat senyuman luthfi yang menurutnya sangat manis . “lo kenapa ?” lanjut luthfi .
“em , gak papa “sahut winda singkat . ia mencoba tersenyum . “betewe , lo ngapain disini ?”
“gue ? gue mau manggung disini . ini kan café paman gue , jadi gue bebas milih waktu kapan gue pengen manggung”
“oh ya lo anak band? lo sebagai apa ?”
“iya , gue vokalis . cocok kan gue ? gue ganteng gitu ..”
Winda tertawa pelan mendengar kenarsisan luthfi . ‘gue seneng ngeliat lo ketawa gitu . lebih cantik ‘batin luthfi .
“fi , bentar lagi kita tampil ..”ucap damas . teman seband luthfi . “iya , tunggu bentar ..”sahut luthfi .
“eh ,gue mau tampil nih . lo jangan pulang dulu ya ..”luthfi beranjak dari duduknya merapikan kaos yang ia padukan dengan jacket hitam miliknya . sebelum pergi , ia tersenyum pada winda .Winda memandangi luthfi yang menjauh pergi , ada perasaan tak rela membiarkan luthfi pergi .
Luthfi kini menaiki panggung , duduk dikursinya dan meraih mic .
“selamat malam semua , dikesempatan kali ini kami akan menbawakan sebuah lagu , dan khusus untuk gadis cantik yang duduk disudut sana , ..” semua pengunjung menoleh kearah winda . winda yang tak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh luthfi hanya bisa tersenyum malu . rona merah terlihat dipipinya .
Nada mengalun lembut . sebuah lagu bernuansa accoustik dinyanyikan oleh luthfi dan diiringi permainan music yang indah dari temannya .
when I see your smile tears roll down myface I cant replice ..
and now that I’m strong I have figured out
how this world turns cold and it breaks through mysoul
and I know I’ll find deep inside me
I can be the one
‘gue , gue pengen milikin lo win . gue pengen ngejagain lo , ngehapus airmata lo , ngebiarin lo nangis dipundak gue . gue , gue yakin dengan perasaan gue ke elo walau gue belum lama ngenal lo .gue bakal ngebuktiin itu semua win ...’batin luthfi .
I will never let you fall
I stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
‘lo baik luthfi . tapi kenapa disaat seperti ini gue baru ketemu lo ? kenapa gak dari dulu . ?’batin winda memberontak .
It’s okay , it’s okay , it’s okay ..
Seasons are changing and waves are crashing
And stars all falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I’ll be the one
I will never let you fall
I stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
Cuz youre my , youre my , my , my true love my hole heart
Please don’t throw that away
Cuz I’m here for you
Please don’t walk away and please tell me you’ll stay woooh , stay wooh ..
Use me as you will
Pull my strings just for a thrill
And I know I’ll be okay
Though my skies are turning gray
I will never let you fall
I stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
Tepuk tangan yang meriah mewarnai akhir penampilan heaven band-band luthfi- . luthfi turun dari panggung dan segera menghampiri winda . menghampiri bidadari hatinya .
“keren kan gue !” seru luthfi . winda kembali tertawa mendengar itu .
“eh , lo pulang sama siapa ? gue anterin ya ?”tawar luthfi pada winda . winda mengangguk .
Sore itu , sore yang indah untuk mereka berdua ..
________________________END OF PART I_______________________
Yoah . part 1 selesai .
-gimana tati sama enda ? enda diterima gak ?
-luthfi sama winda udah akrab nih ..
Okesip . tunggu cerita selanjutnya ya ..
Keep coment n like ..
Wassalam,
.sucisusilawati.
Langganan:
Komentar (Atom)