Janji . Begitu sering mereka mengucap janji . Mengatakan kata-kata kebohongan agar dipercaya . Kata-kata bermajas hiperbola yang sungguh memuakkan . Janji itu palsu .
***
Gabriel merebahkan tubuhnya diatas sofa . Menatap miris langit-langit ruang tamu rumahnya yang bercat kelabu . Kelabu seperti apa yang sedang ia rasakan kini . Gabriel mendesah pelan dan memejamkan matanya perlahan . Terngiang kembali dipikirannya peristiwa tiga hari yang lalu . Peristiwa yang membuat dirinya menggalau sejak kemarin . Ia tak mengerti mengapa semua nya tiba-tiba saja berubah . Semua ini terlalu rumit , pikirnya . Gabriel beranjak dari duduknya , meraih tas nya yang tergeletak lemah dilantai . Dengan langkah gontai Gabriel berjalan menuju kamarnya .
“Udah pulang ,yel ?” sebuah suara dari arah dapur memaksa Gabriel menghentikan langkahnya . “Udah ma ..” jawab Gabriel lesu seraya melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar .
Kamar bernuansa putih dengan beberapa titik polkadot tercetak di dinding . Putih , warna favorite Gabriel . Gabriel melempar tas nya ke atas meja belajarnya yang berukuran besar . Kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk , singgasananya ketika tidur . Ia mengedarkan pandangan . Beberapa poster besar bergambar pemusik atau pemain sepak bola kesukaannya ikut meramaikan kamar Gabriel . Sebuah gitar klasik tergantung disudut kamar . Edaran pandangan Gabriel terhenti ketika Ia melihat sebuah pigura foto di atas meja lampu . Seorang pria dengan rambut cepak sedang tersenyum lebar , dan seorang gadis disebelahnya tersenyum malu-malu . Pria itu adalah Gabriel .
“shilla .. gue kangen elo” rintih Gabriel tertahan . Gabriel menggigit bibir , meredam sesak yang tiba-tiba menyeruak di hatinya . Peristiwa itu kembali terngiang . Peristiwa tak disengaja yang menyebabkan Gabriel selalu saja merutuki kebodohannya . Peristiwa yang menyebabkan si gadis didalam pigura tersebut yang ternyata bernama Shilla ,menjauhi Gabriel .
Gabriel meraih handphone disaku celananya . Memencet-mencet tombol yang tertera . Dua belas digit nomor yang sudah ia hapal di luar kepala terlihat di layar . Sejenak , Gabriel menimang-nimang handphone nya , bingung . Akhirnya ia memutuskan untuk memencet tombol bergambar telpon berwarna hijau . Gabriel mendekatkan handphone itu ke telinga nya . Suara nada beruntun membuat Gabriel kembali menggigit bibir . “Shilla .. “ desahnya pelan . Untuk kesekian kalinya telpon Gabriel di reject Shilla . Lelah sudah Gabriel memikirkan semua ini . Sebenarnya ada apa dibalik ini semua ? pikirnya .
***
Pagi yang indah ketika sang surya dengan gagah menampakkan wujudnya . Saat burung-burung berterbangan dilangit biru , saling menyapa satu sama lain .
Gabriel membuka tirai putih dikamarnya . membiarkan beberapa berkas cahaya matahari menerobos jendela kamarnya , membentuk petak-petak cahaya dilantai . Ia kemudian meraih tas nya yang tergeletak di atas meja . Dengan tergesa Gabriel menuruni tangga ,sesekali melirik seragamnya , mengecek apakah ada yang kurang atau tidak . “sip lah . udah lengkap !” seru Gabriel disaat kakinya telah selesai menginjak anak tangga . Bergegas ia menuju ruang tengah . Seorang wanita paruh baya sedang bercengkrama bersama lelaki yang sedikit lebih tua dari nya diruang itu . Terlihat sang lelaki beberapa kali menyeruput teh yang tersedia .Dengan senyum mengembang , Gabriel kemudian mendekati kedua orang tersebut .
“ma .. pa .. aku pergi dulu ya ..” pamit Gabriel pada kedua orang tuanya . “iyaa . eh seneng banget kayaknya ?” ujar mama Gabriel disaat Gabriel mengecup punggung tangannya . Gabriel yang mendengar itu langsung tersipu , menyebabkan rona kemerahan tampak dari kulit wajahnya yang putih . Gabriel kemudian tersenyum kecil . Setelah berpamitan , dengan langkah lebar Gabriel berjalan menuju garasi . Menghampiri ninja merah miliknya .
***
Pada saat jam pelajaran dimulai , pikiran Gabriel tak menetap di raga nya . Gabriel terlalu senang memikirkan peristiwa tadi malam . Peristiwa yang menurutnya adalah akhir dari semua kegundahan yang telah dialaminya akhir-akhir ini .
-FlashBack-
Malam telah larut . Jarum jam menunjuk pada angka sebelas dan tiga , namun Gabriel masih terjaga . “eum , jam sebelas lima belas ..” gumam Gabriel pelan , bahkan hampir tak bersuara . Getaran dari handphone Gabriel yang terletak disamping bantal nya membuat Gabriel terkejut . Dengan sedikit menggerutu Gabriel meraih hanphone miliknya . One message received . Gabriel mengerutkan kening , menaikkan sebelah alisnya . “siapa nih sms malem malem gini ..” ucapnya . Gabriel kemudian membuka isi pesan singkat tersebut .
From : 085758374***
Yel , maaf td aku ga bs angkt telf . bsk bs ktmu ga ? plg sklh dicafe biasa . shilla .
Gabriel membelalakkan mata saat mengetahui siapa pengirim pesan singkat tersebut . Senyum mengembang terukir diwajahnya . Secepat kilat Gabriel membalas pesan singkat itu .
To : 085758374***
Ya shill . I’ll be waiting for you . ^.^
-FlashBack End-
Senyuman itu terus terukir diwajah Gabriel . Ketika jam pelajaran berakhir , Gabriel memasukkan buku-bukunya dengan tergesa . Dipikirannya kini hanya satu , Shilla . Gabriel kemudian melangkah cepat menuju parkiran sekolah . Jarak yang hanya beberapa puluh meter itu , terasa beribu-ribu meter dilaluinya .
***
Dicafe itu Gabriel menunggu . Lewat satu jam sudah dari waktu perjanjian namun dengan sabar Gabriel duduk tenang dikursi yang terletak sedikit di sudut ruangan . Sudah tak terhitung ia melirik arloji hitam dipergelangan tangannya .
‘menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
saatku harus bersabar dan trus bersabar menantikan kehadiran dirimu’
Lirik lagu yang dinyanyikan oleh band yang sedang tampil dicafe itu membuat Gabriel mencelos . Memang hanya diawal lagu , tapi itu cukup membuat Gabriel tersinggung . Jus sirsak yang sedari tadi menemani Gabriel seakan telah letih bersamanya . Gabriel menyeruput jus tersebut , ia menghentikan seruputan nya ketika menyadari jus sirsak itu terasa hambar . Tawar .
Gabriel mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja , membuat ketukan sembarang agar lagu tersebut tak memasuki gendang telinganya . Gabriel melirik kembali arlojinya . Pukul 17.00 . Gabriel menghela nafas berat , putus asa . Gabriel memutuskan untuk beranjak , lebih baik ia pulang kerumah ,pikirnya .
Langkah Gabriel terhenti ketika Shilla tiba-tiba berada dihadapannya menggandeng lengan sesosok cowok berwajah oriental . Hati Gabriel memanas seketika melihat pemandangan itu . Namun Gabriel menahannya , berusaha sabar dan mendengar penjelasan Shilla bahwa lelaki dihadapannya kini hanyalah adik atau abang shilla . hah , hati Gabriel kembali mencelos . bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu , bukankah ia telah mengenal baik keluarga Shilla ?
“Yel .. aku mau jelasin ke kamu ..” ujar shilla . “apa ?” tanya Gabriel kasar , amarah mulai menguasai diri nya . Shilla kemudian menunjuk kursi tempat Gabriel duduk , menunggu sedari tadi . Dengan isyarat tangan , Shilla mengajak Gabriel untuk duduk . Gabriel menurut . Hati Gabriel kembali memanas ketika lelaki itu menggeser kursi , mempersilahkan Shilla duduk . Seharusnya itu adalah tugasnya ,pikir Gabriel .
“em , maaf aku telat . Alvin baru bisa jemput jam empat” ucap shilla seraya menunjuk Alvin dengan lirikan matanya . Gabriel menaikkan sebelah alisnya melirik Alvin sekilas , ‘oh , jadi nama nya Alvin .. kerenan juga nama gue ..’batin Gabriel kesal . Gabriel kembali menatap Shilla . Menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari bibir Shilla . Shilla menghela nafas , “yel . kita putus ya ..”
JLEBB
Kata-kata Shilla seakan menusuk hati Gabriel . Sangat tajam . Gabriel meringis , namun ia tak menahan Shilla yang ingin lepas dari pelukannya . “Aku pamit . makasih buat waktunya ..” ujar shilla . Sepertinya Shilla sama sekali tak merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Gabriel , buktinya , dengan lembutnya Shilla menarik lengan Alvin dan menggenggam jemari kokoh itu dihadapan Gabriel . Gabriel merutuki kebodohannya , bukan karena kesalahan tak sengaja pada peristiwa itu , tapi karena dengan mudahnya ia mempercayai kata-kata shilla . Janji-janji shilla bahwa ia tak akan pernah pergi dari rengkuhan Gabriel . Gabriel tersenyum miris mengingat itu semua .
“Bodoh” ujarnya seraya meninju meja . Tak dipedulikannya tatapan aneh dari pengunjung café yang lain . Gabriel kemudian melangkah gontai menuju pintu café . pikirannya berkecamuk . Ia bahkan mungkin tak sadar mengucapkan sederet kalimat pada setiap orang yang dilewatinya dicafe . “gue benci sama yang namanya janji . Janji itu Palsu..”
^THE END^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar