Beribu-ribu batako terhampar , menyatu membentuk sebuah lapangan yang luas . Bunga yang bermekaran terlihat menghiasi beberapa sisi lapangan . Langit biru yang membentang indah dengan suara kicauan burung yang saling sahut-menyahut menambah indah suasana . Cukup nyaman berada disini ketika pagi hari .
Alvin beranjak dari duduknya saat sang surya mulai berani menampakkan diri , menyilaukan pandangan mata .
“Bagi seluruh siswa , setelah meletakkan tas dikelas , diharapkan untuk segera turun ke lapangan . Upacara akan dimulai” suara Pak Gino menggema . Tanpa menggunakan microphone pun sebenarnya suara Pak Gino sudah bisa didengar diseluruh penjuru sekolah . Hebat bukan ? suara itu seperti dialiri listrik bertegangan 100volt . Alvin melirik arloji hitam dipergelangan tangan kanannya . “huh ! masih setengah jam lagi kok udah teriak-teriak gak jelas ! dasar orang tua .” Alvin merutuki perbuatan gurunya tersebut . Ya , waktu memang masih menunjukkan pukul 06.30 . Tapi beginilah kehidupan disekolah menengah atas yang bertaraf tinggi . 30 menit sebelum masuk , ada saja teriakan yang membisingkan telinga .
Akhirnya , daripada menghabiskan tenaganya untuk ke kelas yang berada dilantai tiga , Alvin memutuskan menunggu upacara seraya duduk kembali disinggasananya . Menikmati kembali keindahan suasana pagi walau kini matahari sedikit terik . Alvin mengangkat kaki , menumpukan kaki kanan pada lutut kirinya . Merogoh saku . mencari teman kesayangannya . Rubik . Dengan lincah jari-jari Alvin memainkan benda ajaib berbentuk kotak tersebut . Sudah menjadi kebiasaan Alvin tiap pagi duduk dibawah pohon yang cukup rindang disisi lapangan dengan beberapa batako berdiri kokoh mengitari akar pohon . Batako yang selama ini menjadi singgasana Alvin ketika ia ingin mengilangkan kegundahannya dengan merasakan indahnya panorama pagi .
“Heh ! kenapa masih duduk disitu ! kamu gak dengar apa yang saya katakan tadi ?!” kalimat yang dilontarkan Pak Gino terdengar seperti kalimat perintah yang sangat memaksa . Alvin terperanjat , Namun dengan segera ia hilangkan raut wajah kaget itu menjadi normal kembali . Alvin mengangkat alisnya santai ,memasukkan rubiknya kedalam saku . Kemudian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring . Senyum merendahkan . Pak Gino terlihat berang dengan kelakuan Alvin . Matanya yang sipit seperti tersiksa karena dipaksakan untuk melotot . Rahangnya mengeras . Sebelum Pak Gino melontarkan kembali sebuah kalimat yang sangat menyesakkan , Alvin segera beranjak dari duduknya . Bukan karena ia takut , tapi Alvin tak mau telinganya rusak hanya karena mendengar ocehan tak jelas dari pemilik suara 100 Volt tersebut .
Alvin melangkah pelan menuju barisan kelasnya ditengah lapangan . Teman-temannya yang melihat kejadian itu menatap Alvin miris . Sedikit mengasihani sang pemuda . Walaupun itu sudah menjadi tontonan rutin setiap senin pagi semenjak tiga bulan yang lalu . Alvin membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin .
Alvin memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kemudian masuk kedalam barisan . Teman-temannya langsung memberondong Alvin dengan sejuta komentar yang menurut Alvin sangat tidak penting .
“Gila lo Vin !”
“Ada apa sih sama lo , Vin ?”
Dan komentar yang membuat Alvin berang adalah ketika Rio , musuhnya berkata , “Bokap sendiri kok digituin . Mau jadi anak durhaka lo !”
Alvin menajamkan matanya menatap kesal pada makhluk bernama Rio itu . Bisa-bisanya dia ngomong gitu,pikir Alvin .
Rio memasang tampang sengak , ia tak mau kalah kali ini setelah puluhan kali ia dikalahkan oleh Alvin . Dengan gerakan cepat , Alvin mencengkeram kerah Rio menggunakan tangan kirinya , sedangkan tangan kanannya mengepal tepat didepan batang hidung Rio .
“Lo ! jangan sok tau !” Alvin berkata pelan , namun terdengar tajam ditelinga. Nyali Rio ciut . Alvin terlihat sangat meyeramkan ,pikir Rio . Belum pernah Alvin menampakkan sosoknya yang begitu sangar . “So..Sorry” ujar Rio pelan . Lebih baik ia meminta maaf daripada harus masuk rumah sakit karena tinjunya sikarate bersabuk hitam itu meremukkan wajahnya . Alvin memutuskan untuk melepaskan cengkeramannya pada seragam Rio . “Jangan macam-macam sama gue !” bentak Alvin seraya mencoba menetralkan emosinya . Nafasnya masih tak beraturan . Rio menunduk , menahan rasa malu . Bukankah dia yang duluan menyulut kemarahan Alvin dan sekarang dia yang ketakutan ? pengecut ,pikirnya .
Alvin memutar tubuhnya menghadap kedepan . Mencoba mengatur nafasnya yang terdengar sangat berantakan . Alvin memakai topi berwarna abu-abu yang sedari tadi tergantung diikat pinggangnya . Bukan topi sekolah , melainksn topi biasa, polos.
“Upacara pengibaran bendera segera dimulai . Masing-masing ketua kelas menyiapkan barisannya” suara dirigen terdengar lantang . Seluruh ketua kelas pun merapikan barisannya . Alvin yang berdiri tiga baris dari belakang , hanya berdiam . Tak mengikuti aba-aba dari ketua kelasnya walaupun sudah berkali-kali sang ketua kelas menegurnya . “Lo urus yang lain aja ! gue bisa ngurus diri gue sendiri” ujarnya setelah Cakka ,sang ketua kelas menghampirinya dan menyuruhnya untuk bergeser sedikit kekanan . mendengar itu , Cakka hanya mendengus kesal dan kembali kebarisan .
Pak Gino yang melihat kelakuan Alvin langsung mengambil langkah seribu , mendekati pemuda itu . Kemudian beliau berdehem keras tepat ditelinga Alvin . Sekali lagi Alvin terperanjat , namun bukan Alvin jika ia tidak bisa dengan cepat mengubah raut wajahnya . Dengan santai , Alvin melangkah kedepan , menyuruh Deva untuk bertukar posisi dengannya . Deva mengerutkan kening ,bingung . Apa yang harus ia lakukan ? Jika ia tak menuruti Pak Gino , ia akan mendapat panggilan ke BP nantinya ,tapi jika ia tak menuruti Alvin … Deva meneguk ludah . Membayangkan apa yang akan Alvin lakukan padanya saja sudah membuatnya bergidik ngeri . Alvin melotot “ Lama banget , lo gak mau tukeran posisi sama gue ?” tanya Alvin . Deva mengeleng . “Gu..gue ma..mau kok” dengan langkah lebar , Deva melangkahkan kakinya kebelakang . Tak perduli lagi dengan Pak Gino yang tengah menatapnya tajam . Sementara Alvin tersenyum lebar .
Pak Gino mengelus dada ,berusaha meredam emosinya . Tapi percuma . Kemarahannya telah membuncah sampai ke ubun-ubun kepalanya .
Bugg..!
Satu tendangan keras dari kaki Pak Gino mendarat dibetis Alvin .”Arrghh!!” jerit Alvin . Ia kemudian memutar badan menghadap Pak Gino , Memicingkan mata , menatap Pak Gino tajam .
“Maksud lo apa ?” tanya Alvin lantang . Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya . Pak Gino terbelalak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alvin . Upacara terhenti , semua mata kini mengarah pada mereka . Namun Alvin dan Pak Gino tak perduli , mereka terlalu larut dalam emosi masing-masing . “Kamu ! Saya didik kamu tidak begini ! saya mendidik kamu supaya berbakti dengan orang tua !” bentak Pak Gino . Alvin tersenyum miring .
Entah mengapa tak ada satupun yang berani menghentikan mereka . Apa karna Pak Gino pemilik sekaligus kepala sekolah ? atau karna Alvin yang notabene nya seorang karateka bersabuk hitam yang telah menjelajahi dunia ?
“lo BUKAN orang tua gue ! B-U-K-A-N” teriak Alvin seraya menekankan dan memperjelas kata ‘bukan’ .
Plakk..!!
Satu tamparan mendarat dipipi Alvin . Pipi nya yang berkulit putih itu kini memerah dan membentuk lima jari . Alvin terjerembab , namun dengan sigap ia berdiri . “lo itu cuma pembunuh mama gue !” Pak Gino kembali terbelalak , tangannya hendak menampar pipi Alvin jika seorang gadis tidak menghalanginya . “STOP PAA !!!” gadis itu berteriak seraya merentangkan kedua tangannya didepan Alvin , berusaha melindungi Alvin .
“Jangan pukul kak Alvin lagi paa .. Acha mohon ..” Acha kemudian memutar badannya menghadap Alvin , ditatapnya Alvin yang tengah termenung . “Dan kak Alvin .. Acha mohon .. terima Acha sama papa . Bunda meninggal bukan karena papa kak ..itu semua udah takdir .Sayangi kami kak ! walau kami hanya keluarga tiri kakak . Tapi Acha gak pernah nganggap kakak sebagai saudara tiri . Acha udah nganggap kakak bagian dari hidup Acha . hiks hiks ..” bulir bening itu mengalir dengan leluasa dipipi mulus Acha . Alvin terdiam . Pikirannya berkelebat dengan berbagai macam pertanyaan . Ia bingung apa yang harus dilakukannya kini . Apakah ia harus mempercayai kata-kata adik tirinya itu atau tetap berpendirian teguh pada keegoisannya ?
Dan disaat itulah dada bidang itu merengkuh tubuh Alvin dalam pelukan . Mengelus pelan puncak rambut Alvin . Memberi sedikit kekuatan walaupun sebenarnya Ia juga tak kuat menahan .
“Maafin Alvin..” suara serak Alvin membuat si dada bidang membelalak . Dilepaskannya pelukan itu perlahan . Ditatapnya Alvin yang sedang ,menangis ? Ia tak menyangka Alvin akan mengeluarkan air mata itu . Dengan sigap Ia meghapus airmata Alvin dengan jarinya . “Cowok kok nangis..” ujarnya . “Pak Gin .. eh .. papa apaan sih . siapa yang nangis ..” Alvin mengelak . Ia kini merasa , lega ? ya . sangat lega . sesaat kemudian tubuh mungil Acha memeluknya . “makasih kak ..” ujar Acha seraya tersenyum .
Semua mata yang melihat peristiwa itu tersenyum haru . Upacara berjalan kembali . Namun upacara ini kali ini terasa berbeda bagi Alvin . Upacara ini terasa khidmat kembali setelah tiga bulan terasa hampa baginya .
^THE END^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar